Begitulah Kisah Kita Menutup Mata untuk Selama-lamanya

Oleh Helvy Tiana Rosa

 

Aku akan bergegas meninggalkanmu,

semua jejak, bayangan, dan gurat kenangan itu

Tak akan ada pintu, jendela atau satu celah pun

untuk kembali.

 

Kita mungkin hanya akan melihat

satu sama lain dari jauh

sambil menyeduh secangkir kopi

berisi mimpi masing-masing

 

Jalan kita adalah simpang empat

yang terlalu ramai oleh harapan

dan ucapan terimakasih

“Kau terlalu baik,” katamu.

Tapi kau berpura tak tahu,

bahwa cinta selalu menjadi pembuka

bagi semua jalan kebaikan

yang terjal dan mendaki itu

 

Di pelupuk mataku, seorang gadis,

bergelayut manja padamu

sambil melambai-lambaikan hatinya

yang berwarna warni

 

Malam yang bimbang,

berhenti mencumbu purnama

Di baris-baris kidungmu, rindu tersengal-sengal

diterjang kenyataan,

lari tertatih-tatih, terkapar

dan bersembunyi

di halaman-halaman novel,

cerpen dan puisi

 

Begitulah kisah kita menutup mata

untuk selama-lamanya

 

Depok, 18 Agustus 2016

 

Jujur, sebelum hendak mengulas puisi ini, saya bertanya kepada teman-teman saya, sekitar tiga orang saya tanyai. Pertanyaannya sederhana: ketika kamu kehilangan orang yang kamu cintai untuk selama-lamanya, apa yang akan kamu rasakan? Karena pertanyaannya sederhana, jawabannya pun sederhana dan hampir bisa diduga, yakni sedih dan kehilangan.

Malah, ada satu teman saya, ketika ia saya tanya pertanyaan di atas, ia balik bertanya: perasaan dalam jangka panjang atau pendek nih? Pertanyaan baliknya menarik juga, tapi mengingat teman saya yang ini adalah seorang penagih angsuran atau leasing, pertanyaan baliknya sedikit menggelitik saya. Apakah perasaan seperti angsuran, dalam arti semakin lama perasaan itu berlalu (dicicil), semakin berkemungkinan berubah statusnya—dari cicilan sekian banyak, menjadi sedikit. Atau, dalam hal yang kita perbincangkan: dari perasaan sedih dan kehilangan menjadi rindu.

Tapi, coba kita kembali pada puisi ini, adakah satu larik atau bait yang mencerminkan—merekflesikan sedih dan kehilangan?

Baik, marilah kita berimajinasi dengan acuan puisi di atas. Tersebutlah: ada sepasang insan yang saling mencinta, si Aku dan si Kamu. Namun, si Aku hendak meninggalkan si Kamu. Perhatikan bait pertama dan kedua:

Aku akan bergegas meninggalkanmu,

semua jejak, bayangan, dan gurat kenangan itu

Tak akan ada pintu, jendela atau satu celah pun

untuk kembali.

           

Kita mungkin hanya akan melihat

satu sama lain dari jauh

sambil menyeduh secangkir kopi

berisi mimpi masing-masing

 

Dan kita fokuskan kata ‘akan’ itu. Aku akan bergegas meninggalkanmu…// Kita mungkin akan melihat… Sesuatu yang ‘akan’ itu berarti belum terjadi, tapi baru saja diniatkan. Dan, si Aku telah mengetahui, akan pergi selama-lamanya: tidak ada jalan atau celah pun untuk kembali. Entah karena apa, si Aku akan bergegas pergi. Lalu kita lanjut ke bait selanjutnya:

           

Jalan kita adalah simpang empat

yang terlalu ramai oleh harapan

dan ucapan terimakasih

“Kau terlalu baik,” katamu.

Tapi kau berpura tak tahu,

bahwa cinta selalu menjadi pembuka

bagi semua jalan kebaikan

yang terjal dan mendaki itu

 

Inilah, menurut saya, curahan hati si Aku kepada si Kamu; Jalan kita adalah simpang empat… Sebuah metafor: perbandingan dua hal secara langsung, secara singkat. Jalan kita dibandingkan dengan simpang empat. Lalu di larik selanjutnya: yang terlalu ramai oleh harapan… Ini melambangkan sebuah hubungan yang riuh oleh harapan dan ucapan terimakasih. Kedua hal itu adalah baik, barangkali harapan dan ucapan terimakasih adalah kebaikan. Jika saya menarik imajinasi saya lebih jauh: si Aku sedang sakit, maka hubungan mereka penuh harapan dan terimakasih.

Bait selanjutnya:

Di pelupuk mataku, seorang gadis,

bergelayut manja padamu

sambil melambai-lambaikan hatinya

yang berwarna warni

 

Bait itu mengubah status ‘akan’ di bait pertama dan kedua menjadi ‘telah’. Si Aku telah pergi, dan tak ada celah kembali. Dan kemudian, mereka—si Aku dan Kamu—mungkin akan menyeduh kopinya masing-masing—yang berisi mimpi (masing-masing) juga, dari jauh–barangkali dari alam yang lain. Sebab, si Aku telah menutup mata untuk selama-lamanya, melalui gadis bergelayut manja, yang melambai-lambai. Melambai-lambai adalah tanda perpisahan, dan sangat menyentuh bagi saya, karena yang dilambai-lambaikan adalah hatinya yang berwarna-warni. Seolah untuk menunjukkan: lihat, hati ini berwarna-warni, dan kamu pernah berada di dalamnya. Ya, pernah, karena si Aku menutup mata, selama-lamanya.

Jadi, ada. Ada satu bait yang mencerminkan kesedihan dan kehilangan, di bait lima, atau bait selanjutnya. Bait ini bercerita tentang si Kamu:

Malam yang bimbang,

berhenti mencumbu purnama

Di baris-baris kidungmu, rindu tersengal-sengal

diterjang kenyataan,

lari tertatih-tatih, terkapar

dan bersembunyi

di halaman-halaman novel,

cerpen dan puisi

 

Malam yang bimbang//berhenti mencumbu purnama… adalah sebuah gaya bahasa bernama personafikasi: memberi sifat manusia kepada benda mati yang tak bernyawa. Apakah malam bisa bimbang? Oh tidak bisa, walau sudah lama diharapkan Doel Sumbang dan Nini Carlina dalam lagu Kalau Bulan Bisa Ngomong. Tapi dengan begitu, efek kehilangan si Kamu begitu terasa, sehingga malam ikut bimbang, berhenti mencumbu purnama.

Di baris-baris kidungmu, rindu tersengal-sengal… si Kamu melantunkan kidung: sebuah nyanyian pujian, atau religius yang berbahasa jawa. Kidung termasuk dalam kategori puisi lama. Dalam kidung itu, rindu si Kamu tersengal-sengal. Jelas, si Kamu merasa sedih dan kehilangan si Aku.

Dan lihatlah larik yang menarik selanjutnya, rindu si Kamu yang tersengal itu lari, tertatih, terkapar, lalu sembunyi di halaman-halaman novel, cerpen, dan puisi. Saya kira, ini untuk menggambarkan, bahwa salah satu fungsi karya sastra adalah juga untuk hiburan, pelarian, persembunyian seseorang dari dunia nyata yang menuntut ditatap dan dihadapi.

Begitulah kisah kita menutup mata

untuk selama-lamanya

 

Begitulah ulasan saya atas puisi karya Helvy Tiana Rosa, untuk Dapur Sastra.

Untuk contoh pembacaan (musikalisasi awal) (visualisasi puisi), bisa disimak di kala youtube Dapur Sastra

 

Bekasi, 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here