Informative Images

Ulasan Naskah “DOR” Karya Putu Wijaya :

Refleksi Kebingungan terhadap Pencarian Keadilan

Oleh Leni Yuliani

Penulis naskah drama Indonesia yang sangat produktif adalah Putu Wijaya. Naskah drama berjudul  DOR  yang mengangkat  tema  tentang  sosial  dan  keadilan.  Dalam  naskah  DOR ditemukan berbagai macam benturan karakter antar tokoh dalam menyikapi sebuah kasus. Keadilan yang coba dicari dalam naskah ini selalu terbentur pada berbagai masalah, yang mana menjadi refleksi atas fenomena sosial yang terjadi di dunia nyata. Naskah DOR ini masih ada kaitannya dengan kondisi masyarakat, terutama dengan penegakan hukum dan pencarian keadilan, yang makin tidak jelas. Pembenturan watak tokoh betul-betul mewakili segala permasalahan hukum yang ada di Indonesia.

Dalam naskah DOR beberapa nama tokoh dipanggil hanya dengan jabatannya saja. Bahkan ada juga yang tidak diberi nama, seperti tokoh ‘seseorang’. Secara lengkap tokoh dalam naskah DOR adalah: Hakim, Pelayan, Tamu I, Tamu-tamu, Jaksa, Pembela, Pemuda/Ali, Saksi  (5  orang  perempuan),  Yulia/Pacar  Ali,  Inem,  Para  Pelacur,  Nyonya  Gubernur, Gubernur, Sobat/Anak, dan Lan Fa. Sesuai dengan tema, maka tokoh utama dalam naskah ini adalah Hakim. Tokoh protagonis dalam naskah ini adalah Hakim dan Pelayan. Mereka yang sangat berperan aktif dalam cerita. Peran mereka sangat nyata, terutama pada kutipan di bawah ini:

Pelayan           : Tajuk Sinar Sore penuh kecaman. (membaca) Keadilan sangat supel dan luwes. Ia membengkok seperti lengkungan arit. Ia menggeliat seperti ular. Ia berakrobat seperti gadis-gadis plastik.

Hakim             : Ia diintai!

Pelayan           :  Kompas  di  dalam  pojoknya  berkata:  Keadilan  bersenjata,  kebijaksanaan memihak, konsepsi tua yang terhormat, hakim kikuk, itulah ciri pengadilan kini. (halaman 1).

Kutipan di atas tepat sebagai pembuka, karena menyiratkan tentang apa yang akan dikisahkan kemudian, yaitu tentang keadilan. Kedua tokoh ini juga yang banyak pertentangannya dengan tokoh lain, sehingga menimbulkan konflik tentang keadilan.

Para  tokoh  penentang  juga  ditampilkan  pada  awal  cerita,  namun  lebih  kepada  tokoh tritagonis. Seperti pada kutipan di bawah ini:

Tamu              :  Anda sudah lapuk.  Anda tak mengerti  keinginan modern.  Anda tersesat dalam kehormatan dan cita-cita yang tua. Anda menghambat langkah kami, Anda menentang kami dengan kekuasaan yang Anda punyai sekarang. Anda penakut! Dan semua itu Anda sadari serta dian-diam menentangnya dalam hati! Tetapi lacur, Anda tak mempunyai keberanian. Pengorbanan memang permainan muda-muda saja, mereka belum punya tanggungan.

Pelayan           : Silakan pergi!

Tamu              : Tidak.

Pelayan mendorong tamu itu pergi. Mereka bergumul. Pelayan itu mudah dikalahkan. (halaman 4).

Pada kutipan di atas terlihat jelas bahwa pertentangan antara Hakim/Pelayan dan Tamu. Tetapi kedudukan Tamu di sini hanyalah tokoh tritagonis yang memegang peran pelengkap dalam rangkaian cerita.

Selanjutnya, tokoh antagonis yang paling berperan dalam naskah ini adalah Yulia, Nyonya Gubernur, dan Gubernur. Yulia sebagai pacar Ali, calon menantu Gubernur, dan orang yang paling menderita jika Ali dihukum, berperan sebagai penentang utama kebijaksanaan Hakim. Bahkan Yulia rela mengeluarkan uang untuk menyuap Pelayan, seperti pada kutipan berikut:

Yulia               : (melemparkan dompet) Nih! Keadilan yang lebih besar masih banyak yang harus dibela. Bijaksana sedikit untuk kecelakaan-kecelakaan kecil. Maklum anak muda. (lampu mati, wanita itu lenyap)

Pelayan           : (mengambil dompet) Heeee! (halaman 14).

Nyonya  Gubernur  juga  bertindak  yang  sama  dengan  menyuruh  Inem  agar   Pelayan mengambil surat Hakim. Seperti pada kutipan berikut:

Inem               : O ya, ya! Di mana ya? (memeriksa kantong Pelayan) Dia bilang dia sudah dapat. Dia bilang banyak sekali surat-surat di atas meja Bapak Hakim. Jadi, susah memilihnya yang mana. Di mana disimpannya ya. O ini dia. Ini. (mengambil sebundel surat dari balik bahu Pelayan) Ini baru sebagian saja. Dia bilang juga orang-orang itu sudah datang kepada  Bapak Hakim malam-malam. Mereka masuk ke dalam kamar Bapak Hakim dan berbicara  berbisik- bisik.

Istri Gubernur : Baca keras-keras. Biar dia dengar lagi! (halaman 41).

Untuk lebih lengkapnya dari perwatakan setiap tokoh adalah: Hakim, berwatak ragu-ragu, kurang tegas, selalu berubah, agak kebingungan, sakit-sakitan, berani mengambil keputusan pada saat  akhir. Pelayan, berwatak penjilat, tipe ‘Asal  Bapak Senang’,  labil, kalah oleh wanita, berubah pada saat akhir. Yulia, berwatak menghalalkan segala cara, sangat cinta pada Ali, kejam. Nyonya Gubernur, berwatak dominan, sangat sayang kepada keluarga (bahkan berlebihan), pandai, kasar, licik. Gubernur, berwatak kalem, didominasi istri, frustasi, kejam pada saat akhir. Tamu, berwatak ngotot, pandai berkelahi, penuntut. Jaksa, berwatak teliti, cerdas. Pembela, berwatak pintar, pandai berkata-kata. Pemuda/Ali, berwatak kompromis, jujur, berani mengakui kesalahan. Saksi, berwatak cerewet. Inem, berwatak penjilat, pandai merayu, licik. Para pelacur, berwatak menentang, toleran. Sobat/Anak, berwatak bijaksana, pemberi pandangan, pekerja keras, teman Hakim semasa kecil. Lan Fa, berwatak lembut, patut dikasihani, tidak berani bersikap.

Dalam  naskah  ini  kebingungan  terus  terjadi.  Kebingungan  terhadap  pencarian  keadilan sebagai refleksi kondisi sosial yang ada. Kasus hukum bisa menjadi simpang siur tentang keadilan dan jalannya persidangan karena masing-masing tokoh mempunyai kepentingan yang bertolak belakang. Naskah DOR menjadi semacam kritik tentang penegakan hukum yang sering pilih kasih. Ibarat kata seperti “pisau yang selalu tajam ke bawah dan tumpul ke atas”.

Ketika naskah ini memunculkan kebingungan dalam perwatakan, jalan cerita dan alur, hal ini membuat pembaca lebih mencekam dan memiliki unsur ancaman mental. Naskah DOR menjadi sebuah refleksi dan kritik atas sebuah bangsa yang bernama ‘Indonesia’. Dari sini dapat kita ketahui bagaimana naskah DOR ini ditulis dan dibangun dengan penuh kerumitan, kejutan, bahkan gangguan.

Secara umum,  naskah ini  termasuk  kategori  naskah  yang bagus,  walaupun  Putu  Wijaya sendiri mengakui masih perlu adanya perbaikan. Seperti pada halaman terakhir (70), ada catatan  yaitu “Dilarang memperbanyak naskah ini tanpa sepengetahuan pengarang/Teater Mandiri karena naskah ini masih akan diperbaiki. Pementasan pertama pada tanggal 21 s.d.

31 Maret 1979.” Ketegangan yang dari awal dimunculkan dalam adegan dapat terjaga dengan baik hingga akhir cerita. Pembaca naskah DOR juga tidak terlalu kesulitan untuk mencerna jalan cerita yang ada. Argumentasi saya bahwa seorang Putu Wijaya bermasil membuat eksplorasi dalam naskah yang bukanlah sekadar untuk tujuan estetika saja, melainkan diperhitungkan juga akan selalu ada keterkaitannya sepanjang penegakan hukum masih tidak maksimal dan ideal di bangsa ini, Indonesia.

Judul              : DOR

Pengarang     : Putu Wijaya (I Gusti Ngurah Putu Wijaya)

Penerbit         : Balai Pustaka

Cetakan Ke-  : Ke-7 (Jakarta, 2003)

Halaman        : 70

Desain sampul buku berwarna hitam dan putih. Tulisan DOR berwarna merah tepat di bagian atas, dan tulisan PUTU WIJAYA berwarna ungu muda tepat di bagian tengah. Terdapat setengah gambar wajah Putu Wijaya dengan desain warna hitam dan putih. Di bagian bawah terdapat logo dan tulisan Balai Pustaka. Logo berwarna merah marun dan kuning, sedangkan tulisan Balai Pustaka berwarna hitam dan putih. Pada bagian belakang buku terdapat resume naskah dan detail dari penerbit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here