Ilustrative images

Berbicara tentang sastra yang produksinya sangat dinamis di era milenial ini mulai merambah pada cyber sastra. Kehadiran para penyedia jasa sastra cyber terus berkembang dan merambah ke segala arah menampung para penulis yang belum mendapatkan jatah terbit dari media konvensional. Kehadiran cyber sastra sangat beragam dan menyediakan berbagai macam genre sastra secara lengkap dengan aliran dan tema cerita. Kalau pada pembagian sastra sebelumnya tema dan struktur sastra sangat mudah dideteksi pada era modern ini sungguh sangat sulit mendeteksi tema yang disajikan karena begitu banyaknya.

Para penyedia jasa publikasi cyber sastra memiliki animo yang sangat kuat dan beragam dari para penulis. Bahkan mereka menjadikan hal tersebut sebagai satu penghasilan baru dari penulisan cyber sastra yang tersedia. Adanya penggemar yang mudah mengakses adalah satu tinjauan awal apakah karya sastra tersebut laku di pasaran atau tidak. Dari sekian banyak penyedia publikasi beberapa tempat publikasi sebut saja gwp.co.id, Wattpad, E novel Indonesia, Google play books, dan masih banyak lagi menyediakan pengalaman baru bagi para sastrawan muda dengan gaya tulisannya.

Pada cyber sastra yang mulai berkembang di abad dua puluhan ini akhirnya menjadi satu teori baru dari sastra. Para peneliti sastra sendiri mulai membahas eksistensi cyber sastra tersebut untuk mengklasifikasikan apa yang ada dalam sastra tersebut menjadi lebih absah untuk diamati dan diteliti oleh para kritikus akademis dan nonakademis. Hal ini menjadi problema dari yang sebelumnya media sastra berbasis konvensional dan beberapa ahli juga praktisi sastra lebih bertumpu pada media konvensional tersebut menganggap hal tersebut adalah hal yang tabu.

Akhirnya semuanya harus ikut pada zaman dan animo para masyarakat sastra yang mulai bertumpu pada cyber sastra ini. Adanya teori cyber sastra yang sekarang tertanggal 23 Febuari 2021 di Indonesia belum dikemas dalam buku dan sub buku namun masih dalam bentuk penelitian dan jurnal ilmiah membawa angin segar bagi masyarakat sastra yang dalam pemikiran konvensional masih menganggap tabu hal tersebut. Maka setelah adanya tulisan-tulisan ilmiah tentang cyber sastra maka mulailah berkembang juga kritik dan penulisan cyber sastra.

Dalam cyber sastra para penulis menjadikan hal tersebut menjadi batu loncatan yang cukup efektif bagi mereka untuk kemudian membukukan buku mereka secara cetak. Patut diakui animo para sastrawan untuk menulis harus melalui tahapan penyaringan dengan penerbit baik itu media masa maupun penerbit buku sebelum diterbitkan. Dan walaupun ada yang lolos terbit tak jarang para penulis dan penerbit tidak mampu menggaungkan buku yang terbit itu laku di masyarakat sastra. Pada tulisan ini saya sendiri tidak mau mendiskreditkan penerbit dan penulisnya jadi ini adalah satu pengamatan yang cukup dilihat secara realitas tanpa bukti kongkrit.

Kesuksesan para sastrawan dalam menulis karya sastra di cyber sastra yang lebih spesifik pada wattpad penulis bisa contohkan betapa boomingnya Mariposa sebagai satu tulisan di sana digandrungi para pembaca remaja dan dampaknya bisa dilihat. Dalam wattpad penyajian sastra dikemas sebagai satu sosial media yang memperlihatkan satu indeksasi pembaca dan komentar-komentar pembaca yang membuat itu menjadi hidup. Dan setiap komentar itu adalah resepsi pembaca yang jujur dan bisa diteliti para kritikus secara natural. Besarnya angka pembaca pada novel Mariposa  yang mencapai 129 Juta kali dibaca membuat Gramedia melirik tulisan ini untuk dibukukan secara konvensional.

Dalam cyber sastra tentu klasifikasi yang ada bukan hanya terletak pada aplikasi-aplikasi tersebut namun pengertiannya secara harfiah adalah pemublikasian yang melalui proses komputasi dan mudah diakses melalui gawai (komputer ataupun telepon seluler) yang dimiliki masyarakat sastra. Secara sederhana cyber sastra juga ada yang menyebutkan sastra yang dipublikasi secara daring. Jadi puisi-puisi ataupun cerpen yang ada dalam dapursastra.com juga termasuk pada cyber sastra.

Lebih jauh lagi tentang dampak cyber sastra. Kemudahan akses yang dimiliki pembaca membuat satu kategori baru dari para pembaca yang harus diperhitungkan oleh para penulis. Mahalnya buku konvensional yang hanya diakses oleh orang-orang tertentu membuat mereka lebih memilih cyber sastra sebagai bahan bacaan mereka. Ada juga tipikal pembaca yang mereka ketika ingin membeli buku ingin meninjau terlebih dahulu apa yang mereka baca tanpa harus ke toko buku maka hal yang dilakukan adalah membuka cyber sastra untuk kemudian membelinya.

Sastra kini telah memasuki ranah baru media publikasi yang kini sudah menjamur di kalangan anak-anak muda. Cyber sastra lebih digandrungi oleh mereka dengan pola sebar lebih tinggi namun tanpa mengesampingkan nilai estetis dari sastra. Jika indeks baca pada masyarakat dulu diukur oleh buku konvensional maka sekarang hadirnya cyber sastra membuat indeks baca seharusnya meningkat dengan pantauan dari adanya aplikasi-aplikasi tempat publikasi sastra tersebut. Dalam sastra yang sangat luas memang perlu era baru yang harus diserap oleh para sastrawan dan penikmat sastra di era ini.

Kuningan 23 Febuari 2021

Andriyana03

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here