ulasan cerpen setan karya putu wijaya

Ini adalah ulasan Cerpen berjudul “Setan” Karya Putu Wijaya yang ditulis oleh Muhamad Saepudin dengan judul ulasan “Setan dan Kritik atas Hipokritis Manusia”.

***

Sulit untuk membayangkan secara real ketika ada setan yang mengalami kesadaran ingin menjadi manusia. Tetapi sebelum sampai pada imajinasi tersebut, kira-kira apa yang terlintas di pikiran kita ketika ditanya sosok setan? Tentunya kita akan membayangkan sosok yang bermakna ganda. Misalnya, selain berbau mistis, setan juga diidentifikasikan sebagai wujud perilaku, kepribadian, serta berbagai hal yang distempel dengan penanda keburukan perangai. Tetapi menariknya, makna tersebut telah menjadi kultur yang melekat atas dasar kebusukan yang licik, maka tidak heran jika ada yang mengumpat setan dengan raut kesetanan pada sesama manusia yang seperti setan. Tetapi menyoal perangai, kira-kira apa yang menjadikan stereotipe sosok setan melekat pada diri manusia? Jawabannya gampang saja, karena setan bisa dikatakan sebagai wujud sifat.

Hal itulah yang menjadi perdebatan perihal setan dan manusia dalam cerpen Setan karya Putu Wijaya. Cerpen tersebut memang terkesan subjektif, akan tetapi juga kontekstual dengan berbagai unsur absurd yang perlu digarisbawahi sebagai tolak-ukur dari ciri khas gaya penceritaannya.

Misalnya dalam cerpen tersebut dibuka dengan pernyataan, “Kalau jadi setan, jelas nilainya selalu negatif“, kata tokoh bernama Setan. Perkataan itu sebenarnya cukup sebagai penegasan awal dari sosok setan yang ingin menjadi manusia. Selain itu juga menjadi pengantar yang membawa kita sebagai pembaca, masuk dalam alur cerita tersebut dengan segala pertanyaan eksistensi dari perwuduan setan hingga kemalangan nasib-nasibnya, terutama yang bersifat kontradiksi terhadap karakter manusia. Karena manusia seringkali memandang setan sebagai sesuatu yang hitam, bajingan, tidak bermoral, bahkan sepintar dan sepandai apapun setan tetap bernilai negatif. Berbeda dengan manusia, ketika ada sosok manusia yang pintar dan pandai pasti akan bernilai positif, meskipun kepintaran dan kepandaiannya hanya untuk membodohi, mengibuli, bahkan merepresi hak asasi. Pendek kata, itu bisa disebut sebagai sifat hipokritis alias munafik.

Pembukaan dari perkataan itu juga sekaligus menjadi pemicu perdebatan antara tokoh Setan dengan suara misterius, entah itu suara Tuhan atau dirinya sendiri yang lain. Mungkin hal itu pula yang membelah cerpen ini menjadi beberapa fragmen. Pertama, dalam cerpen ini Putu memberikan gambaran sepele tentang karakter setan yang selalu dicap hitam legam. Lalu dilanjutkan dengan perasaan setan yang cemburu, iri, bahkan dengki terhadap kehidupan manusia. Sebab manusia serba diberi kemudahan dari mulai perlakuan kebaikannya hingga keburukan yang justru menjadi kontradiksi hanya karena kepintaran dan kepandaiannya, malah dianggap pahlawan. Kemudian terakhir, bisa disebut sebagai tendensi yang akan membuat pembaca bertanya kembali apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Putu, karena di lain membicarakan setan, ia juga menampakan karakter manusia yang licik dan busuk seperti bangkai-bangkai tikus kantor yang berjasa sebagai bekas abang jago masyarakat.

Jika dicerap dari sensasi emosional penulisnya, Putu, seakan ingin merekonstruksi perspektif tentang manusia adalah manusia, setan adalah setan. Sebab kedua hal tersebut merupakan sesuatu yang bersimpangan secara perilaku, atau bisa dikatakan bermakna antonim. Akan tetapi sebenarnya hal itu juga bisa dikatakan saling melekat satu sama lain dengan kedua sisi yang berbeda. Sebab jika simbol manusia dalam cerpen ini dianalogikan sebagai wujud kebaikan, kira-kira adakah manusia yang suci? Tentu saja itu mustahil, karena manusia juga memiliki sisi baik dan buruk. Kalaupun ada manusia yang suci dari sifat-sifat setan, maka hal tersebut butuh pemertahanan nafsu yang sadar secara kebatinan—sederhananya melawan dan menekan suatu hasrat sensual yang sifatnya sementara layaknya kisah Sang Budha, Shiddartha Gautama.

Memang dalam cerpen ini juga terdapat penekanan atas penawaran yang absurd atas eksistensi manusia, yaitu menjadi manusia atau seperti manusia. Jika diperhatikan dari segi motif, maka menjadi bisa diartikan sebagai seutuhnya wujud manusia, sedangkan seperti bisa dipersepsikan sebagai wujud sifat-sifat yang menyerupai manusia. Hal ini sebenarnya sebagai bagian dari tendensi seperti apakah motif tokoh Setan yang ingin berhenti menjadi setan. Tapi sebelum sampai pada keinginan-keinginan Setan yang bertentangan dengan suara misterius itu, Putu, melalui tokoh Setan, tidak tanggung-tanggung menelanjangi sifat-sifat manusia yang hipokritis atas perlakuannya bahwa:

“Manusia-manusia yang korupsi miliaran, manusia-manusia yang sudah menghilangankan ratusan ribu nyawa orang lain, yang sudah menelantarkan jutaan rakyat, malah menikmati kehormatan dan mendapatkan bintang jasa. Dijadikan pahlawan lagi. Mereka dirayakan sebagai Maha Putra. Dan kalau mati, apa pun sebab kematiannya, bahkan kalau boleh ngomong kasar, hobi bezina pun, tidak perlu mandi air bunga, kontan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Riwayatnya dipuja-puja, walaupun matinya karena raja singa. Keturunannya juga tidak boleh diganggu” 

Dari pernyataan itulah, kita setidaknya mulai memahami representasi maksud dari cerpen ini. Karena memang barangkali, Putu, ingin menunjukan eksistensi manusia masa kini yang sebenarnya jarang orisinal, kebanyakan seperti setan. Mereka tidak pernah berubah semenjak zamannya VOC melahirkan para pengkhianat rakyat dari pemimpin pribumi seperti pada novel Max Havelaar karya Multatuli. Mereka, secara sifat, sebenarnya hanya ingin mendapatkan kenikmatan-kenikmatan sensual atas jasmani yang tidak mau melalui jalan kerumitan. Dan seperti yang dikatakan oleh Machiavelli, manusia itu memang makhluk yang selalu menginginkan sesuatu dengan cara-cara praktis. Mereka menutupi kerakusan dan kemunafikannya dengan selubung dalih-dalih kearifan dan kesejahteraan. Padahal itu hanya akal bulus oportunis, jadi muara dari orientasi utamanya tetap saja untuk kepentingan sendiri—tidak ingin yang bertele-tele—apalagi mengandalkan hoki seperti lotre. Akan tetapi dari pemikiran tersebut, sebenarnya bukan untuk tolak-ukur kesepakatan, melainkan sebagai refleksi eksistensi manusia untuk kembali melihat dirinya sendiri secara individual, akan tetapi demi kepentingan moralitas secara kolektif atau menyeluruh. Dari hal ini pula, kita bisa melihat secara mendasar atas kemunafikan masyarakat kita, atau bahkan pemimpin-pemimpin kita—yang bagi Mochtar Lubis, tidak lebih sebagai pengecut, pecundang, dan munafik. Mereka enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan hal-hal lainnya yang bersifat seperti setan.

Oleh karena itu, ketika tokoh Setan ditanya apakah ingin menjadi manusia atau seperti manusia, tanpa basa-basi ia menjawab dengan tegas menjadi manusia. Artinya menjadi manusia seutuhnya, tidak seperti manusia, dan tidak seperti setan. Sederhananya Setan bermaksud ingin berhenti manjadi setan, untuk berubah menjadi wujud manusia. Namun, ketika suara misterius itu memberitahu syaratnya harus berhenti menjadi setan, tokoh Setan ternyata merasa keberatan, karena ternyata dulunya adalah manusia. Ia menjadi sosok seperti setan hanya karena melakukan sesuatu yang kotor dan licik untuk kepentingan sendiri dengan cara-cara setan. Hal tersebut seperti yang ditulis oleh Putu, bahwa ketika manusia sudah menjadi setan, maka gerak-gerik, tunjak-tunjuk, dan bualan serta segala wujud perlakuannya akan tetap dipandang sebagai setan.

Namun keinginan setan untuk menjadi manusia yang bersifat paradoks ini berhasil menjadi alat kritik yang sastrawi atas individu, bahkan juga secara kolektif, seperti halnya terhadap para pemimpin yang sampai saat ini belum ada yang berkeinginan berhenti menjadi setan. Contohnya pemimpin yang terjaring dari kasus penyuapan lobster, hingga penyelundupan duit anggaran bansos untuk masyarakat. Mereka ini contoh sosok-sosok setan yang pintar dan pandai dengan dalih-dalih kearifannya. Dan jangan salah, ketika sosok setan berdalih, itu bukan karena adanya suatu kebaikan atau simpati, melainkan akal bulus dari pikiran-pikiran mereka yang perlu ditelanjangi agar kita bisa melihat sebesar apa kemaluannya.  

Selain itu, meski cerpen ini tidak menyebutkan secara eksplisit tentang siapa tokoh Setan dan suara misterius itu, tetapi cukup meresepsikan pembaca pada konotasinya. Karena, secara subjektif, Putu memang gemar menulis cerita-cerita yang menggunakan alegori setan sebagai konotasi kritik dengan warna humor yang tragis. Ia begitu lihai mentransformasikan segmen komedi menuju tragedi yang bikin perut terkoyak-koyak, tapi juga bikin pikiran bertanya-tanya. Seperti halnya setan, bagi Putu, menjadi peranti utama untuk menelanjangi segala kegelisahan penguasa dari kerakusan, kemunafikan, hingga hal-hal yang berkonotasi tabu, misalnya kemaluannya.  Mungkin, barangkali itu adalah wujud dari ketidakberdayaan mereka—sosok-sosok setan—dalam menghadapi tekanan modernitas yang menuntut dari segala sendi kehidupan untuk bertahan dari gaya hidup kapitalis. Maka daripada terlihat gembel karena ketinggalan perkembangan zaman, korupsi adalah jalan ninjanya, caranya dengan merebut hak-hak yang tak semestinya dilahap, dari mulai investasi sampai ujung-ujung ekonomi negara, hingga hal-hal yang tidak terprediksi oleh kaca pembesar Komisi Pemberantasan Korupsi. Akan tetapi lebih dari semua itu, cerpen ini juga bikin kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita ini masih manusia atau sudah menjadi setan?

***

Simak Baca Puisi “Setan” Putu Wijaya oleh Tifani Kautsar di Chanel youtube Dapur Sastra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here