Ilustartive images

Oleh Muhamad Saepudin

Suatu kali ada seorang ibu yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) baru pulang dari luar negeri, kemudian seorang teman berkata kepada saya begini, “Ibu-ibu yang pulang dari luar negeri, selain bawa oleh-oleh, kadang juga sambil bawa bayi lho. Tapi bayi itu biasanya mirip orang sananya, bukan Indonesia”. Ketika itu saya masih menganggap perkataannya sebagai ocehan sontoloyo. Akan tetapi beberapa tahun kemudian saya mulai mengerti, ternyata perkataan itu bukan sekadar lelucon, bukan pula mitos, melainkan kenyataan dari nasib para TKW!.

Berangkat dari anggapan tersebut, mungkin hal itu juga yang merepresentasikan nasib seorang TKW yang bekerja sebagai asisten rumah tangga dalam naskah monolog berjudul “Tolong” karya N. Riantiarno (Mas Nano). Sebuah naskah yang merobek isu-isu antar negara dalam menyoal ketidakadilan hak asasi manusia secara regional sebagai pekerja asing.
Kebobrokan itu terurai dari guratan serta lebam biru wajah seorang perempuan yang disekap di dalam kamar dengan satu jendela berjeruji besi. Di sana tidak ada perabotan, tidak ada kasur dan selimut untuk rebahan. Yang tersedia hanya tikar dan bantal, juga barangkali dengan kecoa yang sesekali melesat berkeliaran.

Setiap kali ada suara langkah kaki di luar, perempuan itu sering berteriak minta tolong. Tapi suara dari kerongkongannya hanya nyaring di ruang sunyi, ruang gelap yang sangat kesepian. Mungkin, dari keberadaannya juga tidak ada yang peduli lagi. Ia seperti binatang betina yang hilang, atau bahkan dilupakan. Ah apalah artinya seorang TKW yang miskin, kotor, dan hina? Begitulah ratapan wajah perempuan itu, namanya Atikah, ia mengendap sengsara setelah difitnah dan dikerasi oleh majikannya.

Memang sulit bagi seorang TKW seperti Atikah yang terkurung rapat sehingga tidak bisa keluar dari dalam kamar pengap itu, sebab hak keberadaannya telah dikuasai. Kalau pun bisa keluar dan melapor ke polisi untuk diadili secara hukum, mungkin ia akan kalah telak karena tak punya uang buat nyumpel mulut hakim. Dan kalau boleh menerka, barangkali kesengsaraannya merupakan salah satu wujud keterasingan selain orang-orang eksil. Tetapi dalam kisah ini, Mas Nano, telah menyajikan sastra kontekstual dengan kestabilan dinamika yang tidak kalah kontemplatif dengan kisah drama para “Kecoa”-nya. Bahkan kecenderungan konteksnya tidak hanya mengiris persoalan domestik saja, melainkan bertenden keluar, menjalar ke mancanegara, sebut saja negeri Jiran.

Hal tersebut seperti yang dikatakan oleh Mas Nano melalui naskahnya, ia mengulik isu secara faktual atas dasar kerancuan hak pekerja asing, khususnya TKW. Karena belakangan ini, atau bahkan setiap tahunnya, kasus kekerasan terhadap TKW selalu nangkring di media cetak maupun media massa dengan berbagai macam derita. Ada yang mengalami pelecehan seksual sampai diperkosa. Ada yang dikerasi dengan gagang sapu, pel, hingga dicambuk. Dan kebanyakan dari mereka disekap seakan di ruang eksternal terlihat tanpa terjadi apa-apa. Bahkan sebagian dari mereka yang melapor, seringkali tidak ada pengadilan lebih lanjut hanya karena para majikan bejat itu menyumpel ringgit ke mulut hukum. Lebih parahnya lagi, di antara kedua negara yang mestinya melindungi para TKW melalui kebijakan lembaga pemerintah, mereka justru hanya membantu memulangkan korban tanpa adanya kelanjutan mengenai hak-hak para TKW yang mestinya didapatkan selama bekerja. Coba bayangkan! betapa murahnya tubuh seorang TKW, seperti boneka hidup yang seakan dilepaskan oleh negaranya sekaligus dilegitimasi secara tidak langsung untuk memperlakukan boneka itu semena-mena oleh majikannya seperti pada kutipan berikut.

“Di zaman modern seperti sekarang, mentalitas majikan yang berkuasa sepenuhnya atas para pekerja muncul lagi. Mereka mengibaratkan diri sebagai penguasa Romawi, pemilik ribuan budak. Dan mereka merasa berhak untuk menyiksa atau membunuh semua budaknya itu”.

Mas Nano, dalam hal ini, ingin menafsir dan menyikapi persoalan TKW, terutama di negeri Jiran yang kerap terjadi kekerasan. Karena seperti yang terlansir dalam Data Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), negeri Jiran menjadi nomor satu yang sering mendapat laporan dari buruh migran Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terkait kekerasan, perdagangan orang, hingga pelecehan seksual. Penulis merefleksikan bagaimana negeri kita layaknya bocah yang tidak ada harga dirinya, sering dibully, dan disiksa seperti pada kutipan pengakuan tokoh Atikah sebagai berikut.

“Apa yang saya alami bukan pembunuhan tubuh, tapi pembunuhan mental, pembunuhan politik. Kita berkali-kali dianggap sebagai binatang, tidak punya wibawa. Mengapa? Agar rasa percaya diri hilang. Dan kita dipaksa merasa hanya sebagai bangsa pelayan, bangsa pembantu rumah tangga. Tak ada lagi kebanggaan, karena kita lebih miskin dan lebih kacau dibandingkan dengan negeri Jiran yang kaya raya itu.”

Pernyataan tersebut cukup menjadi cerminan bagi negeri kita yang memang tak bisa diandalkan untuk menangani persoalan buruh migran di ranah hukum. Sehingga apa yang dikatakan oleh Atikah menjadi kebenaran atas kesengsaraan nasib para buruh migran. Sementara di sisi lain, melalui naskah ini, telah membuktikan bahwa negeri kita masih mengalami problem khususnya perihal lapangan pekerjaan.

Akan tetapi sebagai buruh yang kemarin baru saja merasa terkhianati oleh kebijakan UU Omnibus Law Cipta Kerja—mereka hanya bisa berharap apakah kebijakan tersebut mampu menampung pengangguran dan mengalihkan buruh migran agar bekerja di rumah sendiri. Tetapi bagi para buruh apalah daya, karena mereka juga harus menanggung patah hati yang disengaja, sebab percaya terhadap kebijakan dan perihal hukum yang sontoloyo itu adalah konsekuensi yang tak bisa dielak.

Cirebon, 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here