Dokumentasi pribadi penulis
Dokumentasi pribadi penulis

Kamu ke pantai. Debur ombak menyentuh telinga. Aktivitas nelayan dan perahunya. Rumah-rumah, warung-warung yang reyot, mengemuka di matamu. Itu bukan pemandangan yang spesial, saya pernah melihatnya, di Pantai Muara Beting, Muara Gembong, Bekasi. Saya melihat pemandangan itu kembali, dalam novelet ini: Rumah Kertas. Tapi, ada pemandangan yang berbeda, pantai dalam novelet ini menyimpan satu rumah manusia “gila”–jika tidak bisa disebut stress–bernama Carlos.

Carlos adalah seorang bibliofilia akut. Ia mengumpulkan beribu buku, membacanya, membuat catatan di margin buku. Kemudian, suatu hal membuat ia “gila”. Ia bangun rumah dengan buku-buku. Rumah Carlos rumah yang beda, tidak umum. Terletak di tasik dekat pantai. Dan berdiri di atas tanah beting. Penuh kesunyian, tanpa tetangga. Sesuai judul, rumahnya dibangun dari kertas, dari buku-buku. Lihat cukilan dialog dalam paragraf ini, sebuah imajinasi dari temannya Carlos tentang pembangunan rumahnya:

“Saya banyak merenungkannya (Carlos). Ia pasti berjalan berkeliling seraya tembok-tembok itu meninggi, mengulurkan ke  si kuli sejilid Borges buat dipaskan di bawah kusen jendela, Vallejo untuk pintu, Kafka di atasnya, dan di sampingnya Kant, serta edisi sampul tebal Farewell to Arms-nya Hemingway; juga Cortazar dan Vargas Llosa, yang selalu menulis karya tebal-tebal; Valle-Inclan dengan Aristoteles, Camus dengan Morosoli; dan Shakespeare lengket selamanya dengan Marlowe kena adukan semen; dan semuanya ditakdirkan untuk mendirikan tembok, menurapkan bayang-bayang…” (hlm. 53)

Nama-nama dalam paragraf di atas, adalah nama-nama penulis terkenal, setidaknya saya kenal beberapa. Bagi masyarakat sastra, siapa yang tidak kenal Albert Camus, Ernest Hemingway, Jorge Luis Borges, William Shakespeare? Pasti ada dong yang tidak kenal. Ya, tidak apa-apa, kita memang punya kenalanan masing-masing, kenalan kita berbeda-beda. Namun, semakin banyak kenalanmu, semakin banyak relasimu, itu semakin bagus; ya kita tahulah, di Indonesia ada istilah orang dalem. He he he.

Untuk pembuatan catatan margin, Carlos punya alasan yang puitis: “Aku senggamai tiap-tiap buku, dan kalau belum ada bekasnya, berarti belum orgasme.” (hlm. 32) Saya kira, ini mengisyaratkan, membaca buku itu seasyik bercinta. Dan catatan atas bacaan adalah benih–jika tidak berlebihan disebut anak.

Secuil Alur dan Konflik Sederhana

Dari apa yang saya pelajari, sebenarnya, secara kategori, teori, buku ini bukan termasuk novel, melainkan novelet. Dilihat dari bobot alur dan konflik cerita, hanya menghasilkan 76 halaman.

Sinopsis. Syahdan, seorang profesor sastra di Universitas Cambridge, Inggris, tewas ditabrak mobil saat sedang membaca buku. Kemudian, koleganya (si aku, sang narator cerita), mendapat kiriman buku yang aneh untuk mendiang profesor, sebuah terjemahan berbahasa Spanyol karya Joseph Conrad. Aneh karena buku itu bersepihan semen. Dari situ si aku, membawa kita, pembaca, menelusuri sang pengirim buku. Melewati dunia pecinta buku, yang beragam, yang unik.

Konfliknya juga sederhana. Hanyalah keinginan “si aku” untuk mengembalikan buku kepada sang pengirim, karena sang penerima, profesor, telah almarhum. Dalam pengembalian itulah, “si aku” mengalami hambatan-hambatan.

Sang pengirim tidak liyan, yang sudah kita singgung di atas, adalah Carlos. Apakah “si aku” akan bertemu dengan sang pengirim, Carlos pembangun Rumah Kertas?

Perpustakaan Kolektif

Sebelumnya, ada dua teman saya, menyarankan baca novelet ini. Teman saya yang pertama bilang, “Setelah baca, saya jadi semangat mengumpulkan lebih banyak buku.” Teman saya yang kedua bilang, “Sebenarnya, dalam novel ini, berisi satire, atau sindiran. Terhadap mereka yang tidak mengurus buku.” Tentu saja, kita bisa jabarkan apa itu mengurus buku: membaca, memahami, dan menyimpannya dengan baik dan benar, agar terhindar dari hama atau rayap si serangga.

Kemudian, setelah saya mebacanya juga, kedua teman saya benar adanya. Sebagaimana blurb dari Critiques Libres yang tercantum di sampul belakang, Kisah tak terlupakan tentang dunia sastra, perpustakaan, dan kecintaan akan buku. Sebuah novel untuk dibaca ulang berkali-kali.”

Kembali ke saran kedua teman saya. Kedua teman saya itu, sama-sama membangun perpustakaan kolektif, Taman Baca Masyarakat (TBM), perpusjal, atau apapun namanya. Yang pertama ikut andil di Ruang Baca Oxygen, di Bekasi. Yang kedua ikut andil di Bukusam, di Kuningan. Saya sendiri meminjam buku ini di Bukusam.

Pendapat teman saya yang kedua, benarlah adanya, meski sedikit tendensius, sedikit menyinggung. Seolah-olah berkata, “Ayolah, kita buat perpustakaan bersama. Perpustakaan kolektif.”

Setelah membaca novelet ini, sial, saya juga ikut mengaminkan pendapat teman yang kedua. Bagi saya, novelet ini, benar berisi satir. Bagaimanapun, tidak dipungkiri, banyak buku yang kita beli dan hanya dibaca sekali. Dan dalam kasus novelet ini, ketika terlalu banyak buku di rumahmu, tergeletak di dapur, ruang makan, kamar tidur, bahkan kamar mandi, apakah fungsi buku hanyalah tergeletak? Sedikit berlebihan memang. Tapi, lihatlah buku-buku di rumahmu, timbullah kesadaran baru berbentuk pertanyaan: apakah buku-buku ini penting dibaca orang lain? Jika penting, mengapa hanya tergeletak? Ya, lebih baik kita campurkan saja buku-buku ini dengan adukan semen, kita susun menjadi batu bata. Maka, buku-buku ini lebih berguna, lebih berfungsi.

Aduh, jangan dong, jika buku-buku di rumahmu penting dibaca orang liyan, sumbangkan saja ke perpustakaan umum terdekat, atau bangun perpustakaan umum. Sebab, ujar seorang filsuf kenes dari Yunani, manusia adalah makhluk sosial, butuh teman. Kemudian ingat, teori Darwin; jaman dahulu, dahulu sekali, nenek moyang manusia bertahan hidup dari seleksi alam, bukan karena beradaptasi secara individual, melainkan komunal, kolektif. Bersama-sama.

Nah, untuk sekarang, karena manusia itu unik dan beragam. Ada baiknya saya sebutkan, tanpa tekanan promosi, sebuah slogan dalam iklan rokok, “Berbeda-beda, Bersama-sama”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here