Tentang Dapur Sastra

Dapur Sastra merupakan komunitas kampus yang berada dibawah naungan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Kuningan (Uniku). Komunitas ini berdiri sejak jaman STKIP (sebelum menjadi Uniku).

dapur sastra universitas kuningan

Filosofi “Dapur Sastra”

Nama Dapur Sastra mempunyai filosofi tersendiri. Menurut pendirinya (Aan Sugiantomas)  ketika kita mendengar kata “Dapur” pasti yang terbersit adalah sebuah tempat kotor. Namun dibalik kotornya tempat tersebut ada sesuatu yang dihasilkan yaitu makanan. “Dapur” adalah tempat meracik, memasak, merebus, menggoreng, dan mematangkan. Dari “Dapur” itulah hidangan untuk orang tercinta dihasilkan. Jadi tidak salah apabila “Dapur” diartikan sebagai tempat berkarya, meracik, atau mematangkan. Tidak salah pula apabila ada orang yang mengartikan “Dapur” sebagai tempat kasih sayang. Dari filosofi tersebut, dapat kita tarik pengertian bahwa “Dapur Sastra” merupakan tempat bagi mahasiswa untuk bersama-sama hidup, belajar, berkarya, dan berkesenian, khusunya di bidang sastra. “Dapur Sastra” juga dapat diartikan sebagai tempat untuk mengolah hati dan mengolah rasa. Dapur Sastra inilah yang menjadi penyeimbang olah pikir yang kita dapat dari bangku kuliah. Keseimbangan pikir dan rasa akan menjadikan manusia lebih bermartabat. Seperti kata pepatah “dengan agama hidup menjadi terarah, dengan ilmu hidup menjadi mudah, dan dengan seni hidup menjadi indah”.

Para “Daek” Dapur Sastra

Dapur Sastra terdiri dari lima bagian, yaitu Dapur Ekspresi Seni Bahasa (Daek Sebah), Dapur Ekspresi Seni Peran (Daek Sepan), Dapur Ekspresi Seni Rupa (Daek Seru), Dapur Ekspresi Seni Musik (Daek Semu), dan Dapur Ekspresi Seni Tari (Daek Seri). Teater Pecut merupakan bagian dari Dapur Sastra yaitu Dapur Ekspresi Seni Peran. Semua Daek di Dapur Sastra mempunyai program tersendiri.

Proses Berkesenian “Papatungan” di Dapur Sastra

Mahasiswa yang masuk ke Dapur Sastra akan diarahkan sesuai dengan minat dan bakatnya. Namun karena belajar di Dapur Sastra itu otodidak dan tanpa guru, maka mahasiswa dituntut untuk sabar dalam menjalani hari-hari di Dapur Sastra. Proses berkesenian di Dapur Sastra tidak diajari, melainkan eksplorasi, sharing dan tanya jawab. Oleh karena itu sering disebut sebagai proses berkesenian “papatungan”. Untuk sumber belajar di Dapur Sastra terbilang lengkap, buku-buku musik, teater, seni rupa, tari, atau bahasa (puisi, prosa fiksi, drama) terbilang cukup lengkap. Selain itu kaset-kaset pertunjukan pun ada.