Informative Images

Oleh Dinda Khoerotul Ummah

Novel ini mengisahkan tentang tujuh orang pencari damar yang berada di dalam hutan Sumatera. Mereka adalah Pak Haji, Buyung, Sanip, Talib, Pak Balam, Sutan, dan Wak Katok yang merupakan pemimpin rombongan. Mereka bertujuh merupakan orang-orang yang disegani dan dihormati oleh masyarakat karena mereka sopan, mudah bergaul, suka bergotong royong dan taat agama. Wak Katok membawa senapan yang ia percayakan pada Buyung untuk dirawat dan dipergunakan. Dengan senapan itu pun sambil mengumpulkan damar mereka sering berburu rusa dan babi. Babi itu pun sering masuk ke ladang Wak Hitam, karena itu pula mereka kenal dan bahkan sering menginap di Pondok Wa Hitam. Wak Hitam ini adalah seorang laki-laki yang berumur 70 tahun, berkulit hitam dan menyukai celana dan baju hitam. Ia sering tinggal dihutan atau ladanya bersama Siti Rubiah, istri keempatnya yang cantik dan masih muda. Menurut Wak Katok dalam ilmu gaib Wak Hitam adalah gurunya, Wak Hitam senang suka mencari perawan muda untuk penyegar dirinya. Bila ia sakit istrinya akan diminta mendekap tubuhnya, agar darah muda istrinya bisa mengalir ke tubuhnya dan ia akan sembuh. Orang-orang percaya alasan Wak Hitam suka tinggal dihutan karena ia memelihara jin, iblis, setan dan harimau jadi-jadian, ada pula yang mengatakan bawa ia mempunyai anak buah bekas pemberontak yang menjadi perampok dan penyamun yang tinggal dihutan. Ada pula yang beranggapan bahwa Wak Hitam mempunyai tambang yang dirahasiakannya di dekat ladang.

Mereka bertujuh sampai di pondok Wak Hitam sebelum malam tiba, dengan gembira mereka menyantap masakan Rubiah. Mereka pun tertarik dengan keindahan tubuh Rubiah, Buyung anggota rombongan termuda dan satu-satunya yang masih bujang, tergila-gila dengan kecantikan Rubiah. Di dalam hatinya ia membandingkan Rubiah dan tunangannya Zaitun di kampung. Sanip, Talip, dan Wa Katok sering tidak dapat mengendalikan diri bila duduk dekat dengan Siti Rubiah. Pada suatu hari mereka melihat hal aneh ketika Wak Hitam sakit, banyak orang yang berpakaian serba hitam datang ke pondok dan menyerahkan bungkusan rahasia kepada Wak Hitam. Mereka juga bertemu dengan peramal  yang meramal jalan hidup Buyung, Sutan, Talib, dan Sanip.

Pada suatu hari Wak Katok mengintip Rubiah yang sedang mandi di sungai. Wak Katok yang tak tahan melihat Rubiah yang mandi tanpa busana di sungai, dan dalam perjalanan pulang ke pondok dengan alasan memberi manik-manik ditariknya Rubiah ke dalam semak belukar. Pada kesempatan lain juga, Buyung pun mengintai Rubiah mandi di sungai. Ia pun tak bisa mengendalikan hasratnya dan diberanikannya untuk menghampiri Rubiah yang sedang mandi. Dan akhirnya terjadilan hubungan intim antara mereka. Kemudian, Rubiah pun menceritakan tentang dirinya yang jatuh ke tangan Wak Hitam dan semua penderitaan yang di tanggungnya. Buyung yang mendengar cerita Rubiah pun  jatuh hati dan merasa bertanggung jawab untuk menyelamatkan Rubiah dari tangan Wak Hitam. Mereka pun saling jatuh cinta dan terjadilah perbuatan terlarang yang tidak dapat mereka kendalikan. Setelah Buyung kembali ke tempat rombongan bermalam di hutan, ia merasa bimbang dan menyesal telah berbuat dosa. Di satu sisi ia ingin membebaskan Rubiah dengan menjadikannya istri tapi di sisi lain ia masih tetap mencintai Zaitun.

Suatu hari Buyung, Wak Katok, dan Sutan berburu dan berhasil menembak seekor kijang betina. Ketika menguliti kijang tersebut datang seekor harimau yang lapar dan ternyata sudah mengintai kijang itu terlebih dahulu. Karena harimau itu sudah tua jadi ia kurang sergap dalam memburu hingga buruannya sudah jatuh ke tangan Buyung dan kawan-kawannya. Suatu hari harimau itu menerkam Pak Balam yang sedang lengah dan diseretnya Pak Balam ke hutan. Mendengar teriakan Pak Balam, teman-temannya datang menolong dan untungnya Pak Balam dapat diselamatkan meskipun dengan luka yang berat. Dalam keadaan lemah ia menceritakan mimpi buruknya yang memaknakan perbuatan dosa yang telah dilakukannya selama hidup. Ia juga menceritakan perbuatan dosa yang dilakukan Wak Katok. Ketika mereka dalam perjalanan pulang dengan membopong Pak Balam, harimau menerkam Talib. Dengan usaha teman-temannya, Talib yang terluka berat dapat direbut dari cengkraman harimau. Sebelum ia meninggal ia masih sempat mengaku bahwa bersama Sanip ia pernah mencuri kerbau tetangga.

Karena serangan-serangan harimau ini Pak Balam meminta agar teman-temannya mengakui perbuatan dosa yang pernah dilakukan agar harimau utusan tuhan ini tidak mengganggu mereka lagi. Hal ini membuat Sutan jengkel dan berencana untuk membunuh Pak Balam, tapi rencana Sutan ini tidak kesampaian. Dan dalam perjalanan berikutnya mereka berjumpa lagi dengan harimau lapar itu, Wak Katok segera merebut senapan dari tangan Buyung dan berhasil menyelamatkan dirinya sendiri dan meninggalkan rombongan, tetapi justru ia diterkam harimau, teman-temannya pun langsung menyelamatkannya dari terkaman harimau itu. Niat buruk Wak Katok pun diketahui yang hendak mencelakai Buyung dan Sanip. Kemudian anggota badan Wak Katok diikat dan Wak Katok pun dijadikan umpan yang diikat pada sebatang pohon. Pada saat harimau itu hendak memangsa Wak Katok, Buyung pun melepas bidikannya tepat mengenai harimau itu, harimau itu pun mati.

Kini Buyung pun mengerti maksud kata-kata Pak Haji bahwa untuk menyelamatkan kita hendaklah dibunuh dahulu harimau yang ada di dalam diri kita. Untuk membina kemanusiaan perlu kecintaan sesama manusia. Buyung pun menyadari bahwa ia harus mencintai sesama manusia dan ia akan sungguh-sungguh mencintai Zaitun. Buyung merasa lega bahwa ia terbebas dari hal-hal yang bersifat takhayul, mantra-mantra, jimat yang penuh kepalsuan dari Wak Katok. Sanip segera meninggalkan hutan damar dan menyerahkan Wak Katok kepada polisi karena telah membunuh Pak Haji, dan berbuat kejahatan-kejahatan yang terungkap selama dalam cekaman maut oleh harimau tadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here