Sinopsis Kumpulan Cerpen dengan judul “Senyum Karyamin” Karya Ahmad Tohari ini ditulis oleh Dea Rahmawati, Salah satu anggota Dapur Sastra Universitas Kuningan.

sinopsis kumpulan cerpen senyum karyamin ahmad tohari dea rahmawati dapur sastra universitas kuningan


Senyum Karyamin

Berkisah seorang bernama Karyamin yang berkerja sebagai pengumpul batu. Setiap hari Karyamin dan kawan kawannya harus mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material. Harga yang tal seberapa membuat mereka miskin dan kelaparan. Suatu saat Karyamin sudah dua kali tergelincir karena jalan yang licin juga matanya yang berkunang-kunang dan perutnya melilit. Ketika Karyamin tergelincir para pengumpul batu tertawa terbahak-bahak karena mereka mencari hiburan dengan menertawakan diri mereka sendiri. Karyamin hanya tersenyum bagi mereka tawa dan senyum sama-sama sah sebagai perlindungan terakhir. Karyamin yang berkerja keras untuk membiayai istrinya dan membayar hutang. Badannya sempoyongan kepalanya pusing menahan rasa lapar ia memutuskan pulang ke istrinya walaupun ia tidak tahu apa yang harus dimakannya. Sampai di rumah Pak Pamong menagih uang iuran dana Afrika untuk menolong orang. Karyamin tersenyum kemudian tertawa terbahak-bahak karena ia berpikir kenapa ia harus membayar ia pun masih kelaparan. Hingga badannya hilang keseimbangan ia jatuh ke lembah, Pak Pamong gagal menahan Karyamin.

Jasa-Jasa Buat Sanwirya

Berkisah mengenai para kawanan Penderes (penyadap nira kelapa) salah satunya bernama Sanwirya yang mengalami kecelakaan dari pohon saat mengambil nira. Tiga kawan Sanwirya Aku, Ranti dan Waras sedang berusaha memikirkan apa jasa yang harus diberikan kepada Sanwirya yang sudah sekarat. Sementara istrinya Nyai Sanwirnya terus menangis melihat suaminya. Dibawalah Sanwirya ke dukun, dan dukun pun mengobati dengan memijit. Ketiga kawan Sanwirya merasa kasihan kepada temannya itu, mereka pun telah merencanakan jasa-jasa, yaitu meminjam makanan dari lumbung desa, tetapi Sanwirya bukanlah penggarap lahan. Mereka juga berpikir agar Sanwirya mendapat asuransi jiwa. Namun Nyai Sanwirnya menghampiri sambil terus menangis bahwa tidak ada guna memikirkan jasa-jasa itu karena Sanwirya sudah meninggal. Dan jasa Modin lah yang terkahir untuk Sanwirya.

Si Minem Beranak Bayi 

Menceritakan seorang pria bernama Kasmin yang sedang menapaki jalan sempit yang membelah perbukitan. Ia akan pergi ke rumah mertuanya untuk memberi tahu anak nya Minem sudah melahirkan. Minem perempuan empat belas tahun istrinya Kasmin, si Minem yang sedang terbaring di atas balai balai dan di sampingnya terbaring bayi perempuan yang hanya sebesar lengan. Minem melahirkan belum waktunya usia kandungannya belum genap tujuh bulan, Minem terjatuh di atas tanjakan ketika akan mengambil air air ketubannya pecah maka ia terpaksa harus melahirkan. Kasmin yang gelisah di perjalanan untuk memberi tahu mertuanya takut mereka akan marah. Kasmin menyesal karena tidak mengambil air waktu itu untuk istrinya. Sesampai di rumah mertuanya Kasmin berbicara jujur, ternyata mertuanya itu justru senang mendengar ia punya cucu. Bahkan adiknya Minem berusia dua belas tahun akan menikah, Kismin hanya tersenyum dengan tanggapan mertuanya.

 

Surabanglus

Menceritakan seorang pria bernama Suing dan temannya kismis yang sendang bersembunyi di balik belukar punyengan mereka merasa letih telah dikejar oleh polisi kehutanan sebab mereka telah mencuri kayu. Disitu sebatang pohon singkong tumbuh kini dalam perapian Suing sangat lapar tetapi Kismin memberitahu melarangnya itu beracun singkong surabanglus. Suing yang kini terbaring lemas kelaparan sampai bola matanya pucat. Kismin berusaha mencari sesuatu agar Suing bisa makan ia akhirnya pergi  berlari ke kampung terdekat untuk mencari warung.  Sampai di warung ia minum dan makan pisang ia juga membawa sebungkus nasi dan air. Jalan perjalanan rasanya Kismin susah berlari karena perutnya penuh dengan air.  Dengan cepat ia sampai dan memberi Suing air tapi tidak ada tanda tanda kesembuhan. Ternyata Suing sudah memakan singkong surabnglus karena ia tidak kuat hampir mati tanpa sepengetahuan Kimin, dan akhirnya Suing bungkam terkapar di tanah.

 

Tinggal Matanya Berkedip-kedip

Menceritakan seekor kerbau bernama si Cepon yang terkapar sakit terjatuh di sawah. Tokoh aku anak dari petani yang sedang membajak sawah namun terkendala dengan kerbaunya. Untuk mengatasi itu ayahku memanggil seorang pawang kerbau (Musgepuk) untuk menjinakkan si Cepon agar bisa membajak sawah. Musgepuk ini dia sangat terkenal pandai mengendalikan kerbau namun kali ini ia kesulitan si Cepon tidak bereaksi bahkan dengan cara tipu daya tidak berhasil. Hingga Musgepuk memasang kaluh di hidung si Cepon, para penonton yang melihat itu tidak tega darah keluar dari hidung si Cepon tapi Musgepuk itu malah memperlihatkan kehebatan nya. Cara itu pun tidak berhasil si Cepon pun terjatuh dan matanya berkedip-kedip tak berdaya. Dan Musgepuk itu merasa kecewa kehilangan motivasi nilai sebagai pawang kerbau kini tak ada artinya.

 

Ah, Jakarta

Berkisah bermula ketika tokoh aku kedatangan seorang teman karinnya secara tiba-tiba dan ia berjalan dengan pincang sebab kecelakaan yang dialaminya. Kemudian ia bercerita bahwa ia sudah tidak menjadi supir namun kini ia menjadi perampok. Saat ia akan berkerja bersama tiga temannya, dan ketiga temannya itu meninggal dalam kecelakaannya. Teman karib ku kembali bercerita ia memikirkan nasib si Jabri orang yang disewa mobilnya. Ketika tokoh aku bertanya kenapa ia beralih pekerjaan ia hanya tertawa dan berkata Ah Jakarta. Kemudian sobat ku menginap di rumah ku. Pada pagi harinya sobat ku telah tidak ada hanya ada tulisan dibekas rokok yang berisi ucapan terima kasih dan kabar kepergiannya. Tokoh aku sejak itu sering ke pasar untuk melihat koran untuk mengetahui mayat teman karibnya itu. Dan suatu hari mayat teman karibnya ditemukan di selokan kali Serayu. Tokoh aku bingung apa yang harus dilakukan akhirnya ia memandikan menguburkan dengan layak disana. Tokoh aku selalu teringat teman karibnya yang selalu berkata Ah Jakarta.

 

Blokeng

Bercerita tentang seorang perempuan bernama Blokeng yang sedang mengandung, sampai ia melahirkan seorang bayi perempuan. Namun kelahirannya telah menimbulkan keresahan warga karena tidak ada yang tahu siapa yang menghamili Blokeng. Suatu saat hansip bertanya kepada Blokeng siapa yang menghamilinya dengan mengancam akan ada polisi Blokeng menjawab mengatakan bahwa laki laki itu membawa senter, seketika cahaya senter di desa itu lenyap. Terdengar lagi bahwa yang menghamili Blokeng laki laki yang memakai sendal sepit seketika kembali sendal jepit itu lenyap. Pada suatu hari Lurah Hadining berpidato dan berkata bahwa ia yang akan bertanggungjawab atas anaknya Blokeng, ia lakukan agar keresahan warga hilang. Namun tiba-tiba Blokeng dengan berani membuka peci pak lurah kemudian ia berkata bukan pak lurah pelakunya karena ia pelakunya tidak botak. Seketika laki laki di desa itu berkepala botak. Blokeng berbicara kepada anaknya dan tertawa dengan kelucuan semua laki-laki berkepala botak.

 

Syukuran Sutabawor

Cerpen ini bercerita tentang seorang lelaki bernama Sutabawor yang memiliki pohon jengkol tetapi tidak kunjung berbuah. Karena ia jengkel Sutabawor hendak akan menebang pohon jengkol itu tetapi mertua nya melarangnya justru mertuanya memberi saran untuk memantrai pohon itu. Akhirnya Sutabawor dan mertuanya mengikatkan kukusan bekas di batang pohon itu dan membacakan mantera. Tak lama kemudian pohon jengkol itu berbuah dengan lebat. Sebagai ungkapan rasa syukur Sutabawor mengadakan syukuran di rumahnya dan para tentangnya diundang untuk makan makan. Para tetangganya itu banyak membicarakan mantra Sutabawor yaitu pohon jengkol tidak sudi menjadi tutup lahat kubur priayi zaman akhir.

 

Rumah Yang Terang

Disuatu kampung yang baru di aliri listrik selama 4 tahun, disana listrik pun menjadi cahaya yang tentram di kampung itu. Warga beramai ramai memasang listrik, namun tidak bagi seorang ayah bernama Haji Bakir ia tidak memasang listrik tidak tahu alasannya kenapa tetapi hal ini membuat para tetangganya berceloteh membicarakannya bahkan memfitnah sampai menuduh memelihara tuyul. Anaknya yang bekerja sebagai progagandis pun membujuknya untuk memasang listrik tetapi Haji Bakir tetap pada pendiriannya untuk tidak memasang listrik bahkan ketika sakit pun ia tidak mau ke rumah sakit hingga sampai ia meninggal. Ketika ia di ujung ajal nya Haji Bakir berbicara pada anaknya alasan ia tidak memasang listrik karena bahwa apabila cahaya dihabiskan semasa hidup ia amat khawatir tidak ada lagi cahaya di alam kuburnya. Setelah 100 hari Haji Bakir meninggal ketika tahlilan orang orang berbicara dan mehilat lampu neon sembari tersenyum, anaknya merasa kesal akhirnya ia menjelaskan alasan ayahnya tidak memasang listrik orang orang kemudian menunduk dan aku anaknya berdoa semoga ayah mendapat cukup cahaya di alam sana.

 

Kenthus 

Dikisahkan Kenthus seseorang yang hina da miskin di mata masyarakat. Suatu saat Kenthus bermimpi naik macan (macam lambang kekuasaan) dengan mimpi itu ia berkeinginan untuk menguasai semua orang. Dawet istrinya bingung dengan sikap perubahan suaminya Kenthus. Kenthus yang berkerja selalu berpindah-pindah. Suatu saat Pak RT menyuruh Kenthus untuk menjadi pemimpin proyek mengumpulkan buntut tikus dikarenakan untuk mengurangi hama dan Kenthus dikenal sering berjuang sate tikus. Dengan ambisi untuk berkuasa itu Kenthus menjadi sombong dan merasa lebih berkuasa bahkan merendahkan orang-orang termasuk istrinya Dawet. Kenthus mengumumkan kepada seluruh warga siapa pun yang membawa buntut tikus kepada dirinya maka akan ia beli. Ia menggunakan uang kas desa untuk membeli buntut tikus itu. Tak lama warga banyak berdatangan dengan membawa buntut tikus yang banyak. Kenthus sangat senang melihat banyak warga mengantri berjejalan di rumahnya. Istrinya Dawet tidak merasa bangga bahkan ia muntah muntah karena bau tikus yang begitu banyak dan ia pergi meninggalkan Kenthus.

 

Orang-orang Seberang Kali

Ada dua desa yang berbeda kami menyebutnya “orang-orang seberang kali” suatu perkampungan dengan parit yang dalam dan jika ingin menyeberang melewati titian batang pinang. Orang-orang seberang kali terkenal dengan adu ayam jago dan mereka menganggap itu penting dalam hidupnya. Disana ada Madrakum menjadi botoh-nya. Tetapi ayam jago seberang kali selalu berkokok lebih awal pada saat fajar. Orang-orang di desa kami pergi ke surau namun orang-orang seberang kali berjongkok sambil mengelus ayam jagonya. Suatu hari ada seseorang berdiri di depan rumah ku ternyata Kang Yamin ia memberitahu bahwa Madrakum sedang sakit sekarat ia sudah terkulai lemas, daun telinganya terkulai, bau mayat yang khas sudah menunjukkan orang akan mati tapi penyakitnya aneh ia tidak mati juga. Aku (ulama) menjenguk Madrakum ternyata ia sudah sekarat aku duduk di sampingnya membacakan ayat-ayat suci dan mendoakannya. Setalah itu aku pulang dan memberitahukan kepada istriku tak lama Kang Yamin datang dengan senang berterima kasih  memberitahu Madrakum sudah meninggal dunia. Kata Kang Yamin Madrakum bangkit membuat gerakan-gerakan seperti ayam jago matanya liar, tangganya mengepakkan seperti sayap , berkokok percis seperti ayam jago peliharaannya semua ayam jago juga berkokok, tak lama Madrakum jatuh melingkar di tanah dan mati.

Wangon Jatilawang

Diceritakan tokoh aku yang selalu dihampiri oleh Sulam seorang pria yang mengalami keterbelakangan mental kini ia hidup sebatang kara dan menjadi anak pasar Wangon dan pasar Jatilawang. Sulam yang selalu datang ke rumah tokoh aku jika ia ingin makan atau meminta uang. Tokoh aku yang sangat peduli kepada Sulam walaupun ibu n menentangnya pun juga orang orang Wangon Jatilawang tidak peduli dengan Sulam bahkan orang-orang menyebut Sulang dengan Wong Gemblung. Suatu hari Sulam datang ke rumah Aku dengan wajah yang muram ia menanyakan kapan lebaran ia menginginkan baju lebaran, tetapi Aku yang khawatir baju akan di kotorinya lagi menunda untuk membeli baju lebaran. Sulam akhirya pergi meninggalkan rumah dengan wajah murung. Ketika jam 7 pagi tiba tiba tukang becak datang ke rumah ku memberitahukan Sulam terlindas truk di batas kota Jatilawang. Aku sangat menyesal tidak memenuhi permintaan Sulam padahal aku bisa menurutinya. Aku malu aku tak berani melihat mayat Sulam di Jatilawang. Di hari lebaran dalam angan ku melihat Sulam menatapku dengan tersenyum kemudian pergi dengan ceria. Aku malu.

 

Pengemis Dan Shalawat Badar

Tokoh Aku sedang menaiki bus dari Cirebon untuk ke Jakarta. Ketika bus berhenti di terminal Cirebon pedagang asongan menyerbu masuk sopir turun yang tak acuh dengan penumpang, pedagang yang menawarkan dagangan dengan suara melengking, dan penumpang yang sudah gelisah. Tiba tiba ada seorang pria naik ke bus mengemis dengan mengucapkan shalawat badar. Aku berpikir kenapa shalawat badar harus dijadikan dalam mengemis. Ketika bus mulai jalan, terjadi adu mulut antara kondektur dan sopir karena bus yang tak terisi penuh penumpang. Sopir yang waktu berjalan dengan cepat. Karena kesal melampiaskan emosi nya, kondektur mengusir pria pengemis pembaca shalawat badar dengan berkata kasar, tapi bisa sedang melaju dengan cepat pengemi itu tidak pergi. Tiba tiba hal tak terduga terjadi bus mengalami kecelakaan Aku yang terjatuh dengan luka darah di tubuhnya tetapi hal menakjubkan pria pengemis pembaca shalawat badar itu turun dari bus tanpa luka sedikitpun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here