Ilustrative images

Oleh Muhamad Saepudin

Suatu kali, saya berbincang di sebuah kedai kopi bersama teman saya sambil menyeruput Vietnam Drip dari bahan dasar biji kopi arabika dengan tataran cream yang pas untuk manis sedang dengan sedikit pahit yang puitik. Satu hal yang menarik ia pernah berkata, “Kenikmatan secangkir kopi tak perlu teks-teks filosofi!“. Dari perkataan itulah, kemudian muncul pertanyaan tentang tradisi gaya ngopi masa kini, hingga akhirnya secangkir kopi pun tak sadar sudah tandas, satu kalimat umpatan yang membatin untuk meninggalkan kedai itu, ternyata ada yang lebih menarik ketimbang secawan anggur John Steinbeck!.

Saya tidak tahu betul jejak hubungan antar kopi dengan filosofi. Namun belakangan ini tradisi ngopi memang kerap dibarengi dengan teks-teks puitik. Seperti halnya ketika saya membaca puisi-puisi Gol A Gong dalam buku antologinya yang berjudul Air Mata Kopi, setiap puisinya seakan membuka segmen yang menghantarkan saya menuju ruang masa lampau dari keringat gerah secangkir kopi yang mengepul gelisah. Keharuman arabika atau robusta, yang sebelumnya pernah menyabet petani kopi hingga menjadi harum yang tak sekedar wangi tapi juga membuka luka-luka petani itu sendiri.

Berangkat dari perihal ini, saya kadang bertanya, mengapa kopi selalu dekat dengan teks? Terutama puisi. Lantas setelah ditelisik kembali, terlepas dari masa lampaunya, secara subjektif, ternyata kopi dapat menghantarkan tubuh pada sesuatu yang bernilai spiritual. Hal itu memang tak bisa dibuktikan secara ilmiah, tapi kerap terasa ketika bibir secangkir kopi bertemu dengan bibir yang merah atau yang cokelat karena tembakau untuk merasakan manis-pahitnya. Saya rasa bermula dari perisiwa itulah, seakan membuka pintu filosofis, baik itu perihal bucin, politik, bahkan sampai menuju sesuatu yang bersifat teologis atau metafisis. Saya pun curiga, jangan-jangan hal itu yang bikin kopi sangat dekat dengan teks, serta menjadikan kopi beserta buku, teman sejolinya, sering dijadikan sekat sebagai pemantik diskusi-kritis.

Sementara di samping Jan Breman menulis jejak kepedihan cultuurstelsel terkait dengan masa kelam kopi di Priangan—seperti halnya yang ditulis juga oleh Evi Sri Rezeki dalam novelnya Babad Kopi Parahyangan—tetapi aroma manis-pahitnya kopi kini berubah menjadi tradisi yang dapat menciptakan berbagai teks puitis yang terkadang lepas dari konteks sejarahnya, tapi tak serupa teks caption indie obralan, melainkan bacaan kontemplatif yang perlu diperbincangkan secara transenden.

Dalam hal ini, beberapa teks puisinya Joko Pinurbo telah membuktikan nilai sprititualitas dari objek secangkir kopi dengan peranti “kopi” bernada humor tetapi sarat akan makna sehingga dapat membuahkan kesan jika diperhatikan kedalamannya. Misalnya dalam nukilan puisinya yang berjudul “Surat Kopi”, Joko Pinurbo menulis: // Lima menit menjelang minum kopi, aku ingat pesanmu:/“Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.”/Mungkin karena itu empat cangkir kopi sehari,/bisa menjauhkan kepala dari bunuh diri.//

Secara transparan, nukilan tersebut memuat interpretasi bahwa kopi memberikan kesan yang tak pelik—sederhana—tetapi dapat menjadi pondasi terhadap nilai rasa spiritual dalam membangun teks. Dalam nukilan puisi tersebut juga terdapat penggambaran yang berkenaan dengan persoalan “perayaan” dan “rezeki”, yang dapat dipahami sebagai kritik sosial terhadap keseharian manusia dalam menerima atau secara religius mensyukuri rezeki berapapun yang diperoleh dengan perasaan lapang atas keberkatan-Nya. Peranti “secangkir kopi” menjadi teks sublim yang menawarkan nilai transendental untuk ketenangan secara batiniah sebagai perayaan tanpa mempertimbangkan nominal sebab kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi. Puisi yang akrab dengan diksi keseharian ini seakan menuntun para penikmat kopi untuk menemukan “kopi”-nya sendiri-sendiri.

Maka tak pelak, jika dari kopi melalui teks dapat menciptakan ruang yang romantik, subtil dan guyub. Jadi tidak heran, kalau kopi juga terkadang menjadi kenikmatan yang penuh hasrat untuk sekadar melampiaskan kerinduan, atau segala hal yang memuat tentang perbucinan. Dalam perihal ini, teks puisi berjudul “Puisi, Kopi” mencoba mengakrabi situasi-kondisi yang tidak asing tetapi memiliki nilai kedekatan peristiwa yang seringkali menggelisahkan kehidupan sehari-hari. Seperti halnya dari nukilan puisi tersebut, Joko Pinurbo menulis: //Kita ini secangkir kopi./Kamu cangkirnya, aku kopinya./Peminumnya adalah malam, hujan, puisi.//. Atau dalam puisi berjudul “Puisi Koplo” yang cukup menggelitik seperti: //Kamu yakin yang kamu minum dari cangkir cantik itu kopi?/Itu racun rindu yang mengandung aku?//.

Begitulah kopi, dalam sajiannya bersama teks—bisa menjadi jembatan spiritual dari kesunyian transenden menuju secangkir teks puitik yang filosofis—hal itu berbeda dengan secawan anggur Jhon Steinbeck yang memabukkan nasib, serta yang memeras bau keringat menyengat dari tubuh para buruh dan gelandangan Amerika Latin.

Namun kembali pada keterikatan kopi dan teks-teks puitik. Maka dari uraian interpretasi mengenai puisi-puisi di atas, tak mengherankan jika secangkir kopi bisa memecahkan kepadatan pikiran yang mengkristal seakan bermetamorfosis menjadi kepingan kata-kata yang lunak. Barangkali hal itu juga yang merubah secangkir kopi menjadi penggambaran kesepian, keterasingan, dan segala kerumitan tentang kehidupan.

Demikianlah hal-hal yang mendasari dari secangkir kopi terkadang melampaui batas ruang untuk berbincang panjang. Akan tetapi hal itu, bagi saya memang suatu kewajaran, sebab jika menyadur kebijaksanaan Hamka, “Kalau ngopi hanya sekadar ngopi, monyet pun bisa ngopi”. Dengan begitu, maka untuk dapat menikmati kopi memang perlu filosofi—setidaknya menurut saya. Selebihnya seperti yang dikatakan teman saya, terserahlah perlu filosofi atau tidak!. Namun dalam perihal ngopi, jangan harap secangkir kafein yang hitam itu lepas dari kesepian nasib yang justru terlampau lebih hitam. Terakhir, mengutip seperti pada puisi soal nasib yang puitis dari seorang penyair jalang pelopor angkatan 45 itu, saya pun ingin berkata hal yang sama untuk menutup tulisan ini: bukan maksud saya berdalih tentang ngopi, ngopi adalah kesunyian masing-masing.

Cirebon, 2020-2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here