Rektor Uniku Bicara tentang Mahasiswa dan Kesenian

0
193

Dikdik Harjadi lahir di Bandung tanggal 15 Juli 1971. Ia merupakan anak ke 3 dari 5 bersaudara, dari pasangan Sumarsono dan Rosnaeli (Alm). Meskipun lahir di Bandung, pria yang pada masa kecil mempunyai hobi main bola ini tumbuh dan besar di Kuningan, tepatnya di sebuah desa bernama Wanasaraya Kecamatan Kalimanggis Kabupaten Kuningan (dulu Kecamatan Ciawigebang). Alasan kepindahannya dikarenakan Sumarsono (orang tuanya) yang mempunyai pekerjaan sebagai polisi dipindahtugaskan ke Kuningan.

Pria penyuka makanan tradisional (sambal, lalab, ikan asin, dan pete) Sunda ini, menamatkan pendidikan dasarnya di SDN Wanasaraya. Lulus dari SDN Wanasaraya, ia melanjutkan ke SMPN 1 Cidahu, kemudian melanjutkan lagi ke SMAN 2 Kuningan. Kedisiplinan dan keteguhan pada cita-cita untuk terus bersekolah, ditambah didikan keras orang tua membuat pria penyuka kopi hitam ini mempunyai tekad sekuat baja. Ia tidak menyerah pada keterbatasan, termasuk ketika harus bangun subuh dan pulang jalan kaki menempuh jarak sejauh 7 kilometer. Mobil Guha adalah teman sejati Dikdik melewati masa SMP dan SMA. Jalan Kojengkang Wanasaraya menjadi saksi bisu bagaimana Dikdik muda melangkahkan kaki, menyusuri senja, maghrib, dan isya. Ya, ayah dari dua anak ini (Nida dan Fariz) ketika SMA, karena jadwal sekolahnya siang, terpaksa harus berjalan kaki dari Kojengkang ke Wanasaraya. Pulang sekolah pukul 17.00, ia naik angkot sampai ke Kojengkang. Dari Kojengkang sampai rumah ia berjalan kaki dan tiba di rumah pukul 20.00.

Selepas SMA (tahun 2000) pria yang mempunyai cita-cita sederhana untuk terus bersekolah, bekerja, dan membahagiakan orang tua ini melanjutkan pendidikannya (tahun 1990) di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Jodoh ternyata tidak kemana, di Unsoed (tepatnya di Himpunan Mahasiswa Dipati Ewangga) Dikdik bertemu lagi dengan Dewi yang merupakan adik kelasnya di SMAN 2 Kuningan. Pria yang mempunyai moto hidup asal keyeng tangtu pareng ini kemudian menjalin komunikasi lebih dekat dengan Dewi. Nampaknya benih-benih cinta telah tumbuh diantara mereka, meskipun setelah lulus tidak langsung menikah, namun ikatan rasa diantara mereka begitu kuat sehingga keduanya rela untuk saling menunggu.

Lulus dari Unsoed tahun 1994, pria yang kelak menjadi suami Dewi Fatmasari ini, sempat bekerja di perusahaan kontraktor Jakarta selama 3 tahun (1994-1997). Namun karena situasi di Jakarta pada saat itu kacau, ibunya lantas menyuruh Dikdik untuk berhenti dan kembali ke Kuningan. Kepatuhannya pada Rosneali (ibunya alm) membuat Dikdik meninggalkan perusahaan kontraktor tersebut pada tahun 1997. Di Kuningan, karena ada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE), pria yang sekarang hobi membaca buku-buku tentang agama ini mencoba memasukkan lamaran. Akhirnya Dikdik resmi diterima sebagai dosen. Dengan honor yang tidak seberapa, Dikdik mendedikasikan dirinya secara total. Filosofi hidupnya mengalir saja menjadi tumpuan dasar dalam setiap jejak dan langkahnya. Tanpa harus banyak mengeluh, ia menerima setiap garis takdir dengan penuh rasa syukur. Ia menikmati profesi barunya sebagai dosen, meski dari sisi ekonomi jelas jauh berbeda dengan ketika ia bekerja di perusahaan kontraktor.

Dua tahun setelah bekerja di STIE, pada tahun 1999 anak pensiunan polisi ini memberanikan diri untuk menikahi Dewi Fatmasari yang kebetulan bekerja sebagai dosen di STIE. Tambatan hati yang sudah lama dikenalnya. Dari pernikahannya dengan Dewi, ia dikarunia dua orang anak, yaitu Nida Putri Awalia dan Fariz Difa Fahriza. Kedua pasangan ini terus mengabdikan diri dengan tulus di STIE.

Pada tahun 2003 beberapa sekolah tinggi (STKIP, STIE, STIKU, STIKOM) digabung menjadi sebuah kapal besar bernama Universitas Kuningan (Uniku). Di Uniku, Dikdik menjabat sebagai Wakil Dekan 3 Fakultas Eknomomi selama dua periode. Kemudian di tahun 2009, ia menjabat sebagai Wakil Rektor 3 Uniku selama dua periode (2009-2016) dan Rektor Uniku periode 2017-2020. Di tahun ini, ia diamanahi untuk kembali menjabat sebagai Rektor periode 2021-2024. Di sela-sela kesibukannya, ia tidak pernah lupa pada cita-citanya untuk terus sekolah. Dengan pikiran yang mantap, ia melanjutkan S2 di Unpad dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 2004, kemudian melanjutkan kembali S3 di Unpas lulus tahun 2014.

Sekarang, lelaki yang sewaktu kuliah (S1, S2, S3) konsisten mengambil jurusan Manajemen ini, diamanahi untuk menjadi Rektor Uniku untuk periode kedua. Dalam pikirannya dulu, tidak terlintas sedikit pun untuk menduduki jabatan ini, bahkan ia pun tidak pernah membayangkan bahwa Uniku yang asalnya dari gabungan sekolah tinggi akan sebesar ini. Bukan ia tidak berani bermimpi, tapi ia lebih percaya pada filosofi sederhananya tentang hidup asal keyeng tangtu pareng. Ia tidak ingin berandai-anadai, tapi apa yang jadi tanggung jawabnya harus dilaksanakan secara total. Prinsip totalitas, kesungguhan, dan ketulusan itulah yang kemudian membuat pria yang jalan hidupnya dipengaruhi oleh buku berjudul Hidup Setelah Mati karya B. Arifin ini, dipercaya untuk menahkodai Uniku. Sebuah tugas mulai membawa kapal besar Uniku mengarungi samudera pendidikan, untuk mengantarkan semua penumpang di dalamnya menemukan daratan harapan.

Kini, rektor yang pada periode pertama mengusung konsep Green Campus dan Smart Campus ini tengah focus untuk membangun dan mengembangkan Uniku agar lebih dikenal luas lagi di tingkat nasional maupun internasional. Banyak kerjasama yang tengah dibangun dengan universitas nasional dan internasional. Tujuannya agar Uniku dapat terus tumbuh menjadi perguruan tinggi handal dan unggul. Seperti apa yang sering ia katakan “Uniku boleh di kampung, tetapi kualitas dan keinginan Uniku tidak boleh kalah dengan perguruan tinggi di kota besar”. Baginya Uniku memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan. Dengan sikap optimis, Uniku diajak rektor yang baru ini untuk berlari kencang. Lalu bagaimana pandangannya tentang mahasiswa Uniku dan kesenian di Uniku?

Maksimalkan Potensi Mahasiswa dan Kesenian
Dalam pandangannya, mahasiswa Uniku adalah aset penting yang berharga dan mempunyai banyak potensi. Ia menyatakan bahwa salah satu potensi yang banyak dimiliki oleh mahasiswa Uniku adalah potensi di wilayah kesenian. Oleh karena itu, ia bertekad untuk terus mendukung segala aktivitas berkesenian yang dilakukan oleh mahasiswa. Dukungan itu tidak hanya sebatas moril, tapi juga hal lain seperti materi dan sarana.
Ia memaparkan bahwa dukungan nyata yang akan diberikan Uniku kepada mahasiswa akan dilakukan dengan berbagai cara diantaranya pemberian beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi di wilayah seni, pemberian penghargaan, serta pemenuhan sarana yang terkait dengan aktivitas kesenian. Lebih jauh lagi beliau mengatakan bahwa di tahun 2020 lalu, pembangunan gedung kesenian Uniku sudah masuk dalam rencana pembangunan Uniku. Namun karena situasi pandemi, pembangunannya menjadi terhambat. Tapi hal itu tidak akan menyurutkan tekadnya untuk membangun gedung kesenian.

Langkah nyata yang ia lakukan untuk mendukung segala aktivitas kesenian bukan tanpa alasan. Ia meyakini bahwa salah satu jalan untuk membuat Uniku tetap “ada dan terjaga” serta dikenal masyarakat luas adalah dengan kesenian. Ia pun yakin, bahwa meskipun Uniku tidak mempunyai fakultas seni, kesenian di Uniku akan terus berkembang karena mahasiswanya terus menempa diri dan mengeksplorasi potensinya. Seperti yang ia katakan “Kita sanggup bersaing dengan perguruan tinggi manapun di wilayah kesenian, karena kesenian kita Unik. Keunikan itu timbul karena mahasiswa kita kreatif”.

Ulasan dan obrolan lebih lengkap dapat disaksikan di kanal youtube Dapur Sastra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here