Ilustrative images

 

Istilah prosa dikatakan sebagai ragam sastra yang berbeda dari puisi karena tidak terlalu terikat oleh irama, rima, dan kemerduan bunyi (Aan Sugianto Mas, 2017: 38). Di samping itu, bentuk prosa juga lebih dekat dengan bahasa sehari-hari, sebab bentuknya naratif. Adapun secara isi berupa ide, gagasan, ulasan dan lain-lain sebagai karya tulis yang bersifat sastra mapun bukan sastra. Dari uraian tersebut, maka dapat ditarik simpulan bahwa prosa merupakan karya tulis berupa naratif tanpa adanya kaidah puisi maupun drama. Sedangkan secara sifatnya, prosa terbagi menjadi dua jenis, yaitu prosa fiksi dan prosa non-fiksi.

Dalam prosa non-fiksi, sebagai karya tulis, seperti yang dikatakan kembali oleh Aan Sugianto Mas, tentu saja tidak akan mengandung unsur imajinatif, artinya berdasarkan hal-hal yang faktual. Isinya bisa berupa deskripsi, argumentasi, atau narasi tentang sesuatu yang tidak direka-reka, dan bahkan objekif. Selain itu, bentuk prosa non-fiksi umumnya seperti kritik, esai, karya ilmiah, resensi, artikel, dan lain-lain.

Sementara prosa fiksi berbeda, karena sifatnya imajinatif. Jenis prosa ini merupakan teks naratif yang menceritakan persoalan atas reaksi pengarang terhadap kehidupan. Namun sekalipun berupa khayalan, fiksi tidak hanya imjanasi belaka, melainkan hasil dari penghayatan dan perenungan secara intens dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Dalam hal ini, prosa fiksi secara isi merupakan refleksi permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan sesuai dengan pandangan subjektif pengarang (Burhan Nurgiyantoro, 2002: 3).

Hal tersebut juga senada dengan persepsi yang dikatakan oleh Aan Sugianto Mas (2017: 39), bahwa prosa fiksi sangat dipengaruhi oleh imajinasi dalam proses penciptaannya. Faktor perenungan dalam perolehan ide, ilustrasi bahasa yang estetis, serta kemungkinan-kemungkinan lain yang menjadikan karya tersebut tidak mungkin dikatakan secara objektif, melainkan subjektivitas dari pandangan, tafsiran, dan sikap pengarang. Akan tetapi berhubung dipengaruhi unsur imajinasi, maka akan terkesan direka-reka sehingga muncullah istilah fiction atau fiksi yang artinya cerita rekaan. Kemudian untuk menjelaskan bahwa prosa yang termasuk karya sastra adalah prosa imajinatif, maka muncul istilah prosa fiksi. Namun terlepas dari uraian tersebut, dalam perkembangannya jika dilihat dari kurun waktu, secara bentuk, prosa fiksi terbagi menjadi dua golongan, yaitu prosa fiksi lama dan prosa fiksi baru. Prosa fiksi lama misalnya ada dongeng, hikayat, dan cerita sejarah. Sedangkan prosa fiksi baru seperti novel, novelet, cerpen, biografi atau autobiografi imajinatif, kisah, dan lain-lain.

Dari beberapa pengertian di atas, secara sederhana nampak terdapat perbedaan yang sangat jelas. Hal itu bisa dilihat dari segi isi, karena prosa non-fiksi tidak mengandung unsur imajinatif, bahkan sifatnya objektif. Sedangkan prosa fiksi bersifat imajinatif, bisa dikatakan sebagai karya sastra berbentuk naratif berdasarkan pandangan dan sikap subjektif dari pengarang atas persoalan sosial maupun kultur di tengah realitas masyarakatnya dengan pertimbangan bahasa estetis.

 

Referensi:
Sugianto Mas, Aan. 2017. Kajian Prosa Fiksi dan Drama. Kuningan: Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia.
Nurgiyantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here