Perandai-andaian Lesti

0
281

PERANDAI-ANDAIAN LESTI
Oleh Muhamad Saepudin

Malam merangkak sangat lambat, jam dinding pun berdetak seirama dengan degup jantung. Sepi. Sunyi. Lesti masih suntuk membiarkan angin dingin melabrak tubuhnya yang sintal. Malam itu ia teringat dengan suaminya, Mas Jon, kemudian secara khalayannya melesat jauh menuju imajinasi ranjang yang sangat rahasia. Ia tersenyum-senyum sendiri dengan ekspresi wajah yang berhasrat dan membuat ludahnya ditelan oleh kegelisahannya sendiri.

***

Hari ini Mas Jon sudah hampir satu minggu menjalani perawatan di rumah sakit karena konon katanya tertular virus. Sementara Lesti hanya tahu di ruangan mana suaminya dirawat. Ia meratapi gerobak dagangan tahu bulat suaminya yang diam, bahkan terlihat mati dengan kelunturan cat berminyak yang semakin berkarat. Ia pun selalu berandai-andai, andaikan saja suaminya tidak keliling dan hanya berjualan di rumah saja, atau andaikan saja suaminya dapat bantuan dari pemerintah. Pasti jika perandaian itu terjadi, suaminya tidak akan terjangkit. Suaminya akan tetap sehat, dan bisa memenuhi kebutuhan dapur agar tetap mengepul. Apalagi anak laki-laki tunggalnya sudah gede, meskipun pemalas, tolol, dan tidak bisa bantu apa-apa.

Sementara suaminya masih dirawat, Lesti pun mesti berpikir panjang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi entah kenapa ia tiba-tiba tersenyum dari lamunannya. Ia mengingat seorang perempuan Mesir, namanya Firdaus, yang dikisahkan Nawal. Ia membayangkan betapa mudahnya Firdaus mencari uang dengan keelokan tubuhnya, bahkan menjualnya dengan penawaran yang fantastis. Lesti pun bergegas masuk ke kamar dan berkaca. Memperhatikan lekuk tubuhnya yang aduhai. Kurasa lumayan juga kalau dipoles dengan make up, aku bisa memberikan penawaran cukup tinggi dari sisa tubuhku yang sebagiannya telah diserap Mas Jon, pikir Lesti. Tetapi ia teringat dengan nasib Firdaus yang pada akhirnya seperti binatang betina yang membusuk di jeruji besi. Wajah Lesti mengerut pesimis. Ah mengapa pula aku teringat Firdaus, nasib dia berbeda denganku. Tidak sama. Suamiku terjangkit virus, sedangkan Firdaus menjanda—atau mungkin juga ia hanya haus ranjang saja, pikir Lesti kembali.

***

Setelah melerai perdebatan antara nalar dan naluri, Lesti memutuskan untuk melanjutkan usaha suaminya berdagang tahu bulat. Ia selalu membantu suaminya membuat adonan tahu bulat. Pasti mudah. Sedangkan untuk penghasilan tambahan, ia bisa menjual masker dengan penawaran harga yang mahal.

Dua hari kemudian, Lesti mulai berkeliling dengan tanpa kemaluan dan ketakutan meskipun di luar virus masih berkeliaran. Toh, orang-orang juga ternyata masih beraktivitas seperti biasanya, tanpa khawatir dengan embel-embel zona merah atau zona kuning. Sementara sepanjang berkeliling, dagangan Lesti selalu dibubuhi dengan kemanisan wajah bersolek—dengan lipstik yang melekat di bibir tipisnya, juga tubuh semampai dengan pinggul yang menonjol, sehingga berhasil memanjakan para pembeli lelaki dari mulai remaja, dewasa, hingga bapak-bapak yang sudah tua dengan berahi yang masih terjaga. Mereka pun dengan pandainya menggoda, mengobral basa-basi, dan melontarkan rayuan-rayuan puisi yang murahan. Bahkan, setiap yang membeli tahu bulat, pasti juga membeli masker plus colekan manja lengan Lesti yang montok. Begitu pun dengan Lesti, tidak sungkan-sungkan untuk melontarkan senyum manis dari lekuk pipinya yang berisi.

“Ya ampun, ternyata begini mencari uang, mudah ya. Mas Jon selalu bilang sulit. Dasar laki-laki. Di zaman modern sekarang ini, perempuan memang harus berkarir. Biar enggak mampus kalau suami mogok kerja,” Celoteh Lesti ketika sedang merapikan dagangannya seorang diri.

Tetapi Mas Jon tidak mogok kerja, dia sedang sakit. Sedang berbaring seperti orang tolol yang tidak bisa melakukan apapun, Lesti membatin. Ia sekilas membayangkan wajah Mas Jon yang selalu beringas meski sekarang hanya bayangan tubuh jantannya yang tak berdaya.

Hari itu jualannya lumayan laku, meski pembelinya hanya para lelaki.

***

Perhitungan dari hasil tahu bulat ternyata tidak seberapa, tetapi penghasilan masker di luar perkiraan. Lesti merapikan lembar demi lembar, logam demi logam. Senyum segar di pipinya sedikit menyungging sambil merapalkan rupiah demi rupiah. Tetapi setelah kembali mengingat Mas Jon, ia lupa bahwa ada tanggungan untuk biaya perawatan di rumah sakit. Pastinya sangat mahal. Apalagi suaminya sudah seminggu lebih di ruang inap. Pikiran Lesti pun kembali berputar. Hening. Hanya kebisingan dari suara televisi yang masih merecok menayangkan berita perkembangan virus. Sementara anak laki-lakinya yang pemalas sedang tidur pulas. Semuanya berkelindan layaknya benang kusut.

Lesti pun tersadar ketika anaknya telah bangun dari tidurnya dan menanyakan isi meja makan. Dengan sungkan dan lunglai, ia menyiapkan makanan untuk Si Pemalas. Tetapi pikirannya masih kalut. Ia berharap ada pisau yang menusuk tepat di dadanya, atau membiarkan tubuhnya jatuh terlempar di antara laki-laki yang beringas dan disetubuhi sampai berdarah-darah hingga membuatnya putus asa dan mati. Betapa hidup tidak sederhana. Betapa siang dan malam tidak selalu bisa membuat manusia mengikuti arah waktu kemana mesti melaju. Tetapi dengan susah payah ia berusaha menekan pikiran itu. Persoalan hidup, toh ada Tuhan. Bodoh sekali kalau hidup hanya untuk memikirkan ujung benang kusut, terlalu rumit, terlalu kalut, terlalu suntuk untuk diurai antara ada dan yang mesti ada, Lesti membatin dengan urat-urat wajah yang dingin dan ketus.

Tetapi barangkali setiap manusia punya batas-batas tertentu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Lesti, sebagai perempuan, ia hanya berpikir setidaknya bisa lanjut mengepulkan asap dapur, meskipun terkadang terasa ada sesuatu hal lain yang memang mesti terpenuhi. Namun untuk saat ini, ia menepis keinginan untuk memenuhinya.

Pagi demi pagi semakin cepat berganti senja. Semua upayanya berjalan seperti apa yang dikehendaki Lesti. Akan tetapi pada suatu malam, Lesti merasa kegiatannya sangat monoton, atau barangkali ia merasa kesepian. Hingga terkadang ia tidak begitu memikirkan perhitungan kebutuhan, karena toh penghasilannya sudah mencukupi. Tetapi ia kembali merasa ada suatu kemungkinan-kemungkinan yang kurang disadari dari kesepiannya, dari kegelisahannya, dari usahanya menepis sesuatu hal yang lain itu. Sesuatu yang semakin menggonggong di setiap sendi-sendi tubuhnya. Ia pun kini menyadari kebutuhan yang lain itu, kebutuhan yang terus menggedor-gedor kepala dan dadanya, atau yang menggelitiki bagian tubuhnya yang terpencil dan rahasia.

Perempuan itu memilih berbaring agar malam menyuap ketenangan. Kelopak matanya terbuka menatap langit-langit yang sekilas tergambar angan-angan Mas Jon. Ia pun membayangkan sesuatu yang sangat mustahil. Ia seperti sedang melipat-lipat imajinasinya menjadi gambaran tabu yang menghidupkan hasrat untuk melakukan sesuatu. Tubuh sintalnya masih terbaring di ranjang yang lumayan empuk. Suara-suara orang di luar seakan diperkecil sedemikian rupa. Gerakan kecoa yang mengendap dan berlari menuju pojok tembok tidak disadari olehnya. Ia masih saja menatap lampu langit-langit kamar yang bersinar nestapa, kemudian kembali berandai-andai, andaikan saja aku bisa seperti Jokaste yang disetubuhi Oedipus, anaknya sendiri, maka anakku sangat mudah melakukannya karena ia tidak perlu seperti Oedipus yang mesti membunuh terlebih dahulu ayahnya sendiri, Laios. Toh, tubuh ayahnya juga sedang perlahan digerogoti virus dan akan membusuk. Tetapi itu tidak mungkin. Karena nasib anakku berbeda dengan nasib Oedipus!, pikiran Lesti masih mengawang jauh menyelip dan menyalip waktu. Kerutan wajah Lesti yang sempat mengerut telah lentur kembali, ia pun tersenyum gairah. Matanya terpejam sehingga membuat setiap bagian tubuhnya mendera-dera, Tetapi bagaimana dengan Drupadi? Istri para pandawa yang perkasa. Membayangkan aksi Mas Jon saja sudah cukup, apalagi mengkhayal Bima yang perkasa dan pastinya mampu bertahan lama, atau Yudistira yang bijaksana dengan sabar meraba sesuatu yang lebih rahasia daripada nasib, atau… ah rasanya aku enggak kuat membayangkan Arjuna atau kedua pahlawan yang lainnya, pasti Drupadi tidak ingin lepas dari perihnya bercinta dengan bintang-bintang Mahabharata, Lesti masih terjaga dari angan, hingga tak menyadari kalau malam sudah semakin kelam. Ia merasakan warna kontras kesepian dari bau nasib yang sangat muram.

Hingga pada titik cahaya bulan yang membisu, malam itu Lesti menyaru seakan menjadi binatang betina yang lebih beringas ketimbang Firdaus. Sementara anak tunggalnya sudah tertidur pulas. Ia bergegas keluar dengan baju dan dandanan yang seadanya. Dadanya berdegup sangat kencang. Sorot matanya begitu seksi, penuh dengan ketajaman berhasrat. Dalam waktu singkat, ia pun telah sampai di depan sebuah pintu. Tepat sekali. Itu adalah ruang perawatan kamar inap suaminya.

Entah bagaimana caranya Lesti menerobos dan mendapatkan kunci ruang inap suaminya. Tetapi barangkali ketika seseorang sedang berhasrat maka pikirannya berjalan lancar dengan sendirinya menuju arah yang diinginkan, berbeda dengan pikiran gelisah karena ketakutan. Ia pun memegang pintu ruangannya seakan semua yang bergejolak akan terpenuhi, akan terisi dengan kegelisahan yang menggelitik.

Lesti melihat suaminya sedang berbaring. Wajahnya pucat dan berkeringat. Tampaknya virus menggerogoti setiap organ-organ tubuhnya dengan ganas. Sedangkan suara monitor di pinggir ranjangnya menjajaki keheningan dan kesunyian seakan menusuk-nusuk tubuh perempuan itu. Ia tidak takut dengan persoalan virus yang akan menular pada tubuhnya. Ia rela terkapar telanjang, apalah artinya hidup kalau kesepian terus meraung di sekujur tubuh yang sangat pedih, Lesti pun tersenyum dan mulai bersuara.

“Mas…,” Kata Lesti dengan sangat pelan.

“Mas Jon, bangun. Ini Lesti, datang untuk memenuhi hasrat Mas Jon—yang sudah lama terkapar lelah di sini,” lanjut Lesti masih pelan. Sementara Mas Jon tidak juga membuka sedikit matanya. Lesti pun mencoba untuk meraba tangan dan dadanya dengan pelan, dengan penuh gairah. Kemudian ia pun bergumam kembali agak keras tepat di samping telinganya, “Mas, bangun…!”.

Tanpa berpikir panjang Lesti pun menggoyangkan kedua tangan suaminya agar cepat tersadar dan bangun. Tapi usahanya nihil. Malam itu suasana begitu sepi, hanya kegelisahan dari suara Lesti yang semakin memuncak, menekan, dan menyesak. Seketika suara monitor berdengung. Arah laju gelombangnya berubah melurus—tidak melekuk-lekuk. Lesti semakin gelisah.

“Mas…!!!”.

Hening. Sepi.

Cirebon, 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here