Materi dasar kali ini, kita akan membahas pengertian puisi, unsur, dan penggolongan puisi berdasarkan ensiklopedi sastra dan ahli.

pengertian puisi menurut para ahli - dapursastra.com

1. Pengertian Puisi Secara Etimologis

Puisi adalah salah satu genre tertua dalam sejarah sastra. Istilah puisi  berhubungan erat  dengan  istilah  “lirik,” yang secara etimologis berasal dari “Lyra” alat musik Yunani (Klarer, 2004 : 27).

2. Pengertian Puisi Menurut Para Ahli

McCaulay dan Hudson (dalam Aminuddin 2009: 134). mengungkapkan bahwa puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya.

Dalam Ensiklopedi Sastra Indonesia, (2015 : 639) puisi dimaknai sebagai ragam sastra yang pada awal perkembangannya memperlihatkan ciri khusus, yaitu bahasa yang dipergunakan sangat terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunannya juga sangat terikat pada larik dan bait.

Sugiantomas (2016 : 38) mengungkapkan puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang strukturnya dipilih dan ditata dengan cermat dan padat sehingga mampu mempertajam kesadaran orang terhadap suatu pengalaman dan mengakibatkan tanggapan khusus lewat bunyi, irama, dan makna khusus.

Waluyo (2010 : 25) menyatakan tentang batasan puisi. Ia menyatakan bahwa sesuatu dapat diikatakan puisi apabila ada pemadatan bahasa. Unsur bahasa tersebut diatur dengan memperhatikan irama dan bunyi yang dapat membangkitkan imajinasi pembaca. Bahasa puisi bersifat konotatif yang ditandai dengan kata kongkrit, perlambangan, dan pengkiasan. Unsur fisik dan batin puisi merupakan kesatuan yang bulat dan utuh tidak dapat dipisahkan dan merupakan kesatuan yang padu. Bentuk fisik dan bentuk batin itu dapat ditelaah hanya dalam totalitasnya dengan keseluruhannya.

Simpulan

Dari pengertian dan batasan puisi di atas, dapat disimpulkan bahwa puisi adalah karya sastra paling tua yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaiannya. Kata-kata itu dipadatkan, lantas dipilih dan ditata secermat mungkin dengan memperhatikan nada, rima, dan irama sehingga dapat membangkitkan imajinasi dan mempertajam kesadaran seseorang terhadap suatu pengalaman. Puisi memiliki struktur fisik dan batin yang keduanya merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan.

3. UNSUR-UNSUR PUISI

Setiap karya sastra terdiri dari unsur-unsur yang membangunnya, baik unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsik. Begitu juga dalam puisi. Sugiantomas (2020: 37) menyebutkan bahwa unsur ekstrinsik dari puisi yaitu agama, ekonomi, sejarah, adat, pendidikan, pengarang, dan lain-lain. Sedangkan unsur intrinsiknya terdiri dari unsur isi dan struktur. Unsur isi yang terdiri dari sense atau tema, feeling atau rasa, tone atau nada, dan intention atau amanat, serta unsur struktur atau susunanya yang terdiri dari diction atau pilihan kata (diksi), imagery atau kekuatan daya lukis atau pengimajian, the concrete word atau kata-kata kongkrit, figurative language atau pengiasan dan gaya bahasa, rhythm atau ritma atau irama, dan rhyme atau rima.

Sementara itu, Waluyo (1987 : 28) mengemukakan bahwa struktur batin puisi terdiri atas tema, nada, perasaan, dan amanat. Sedangkan struktur fisik puisi terdiri atas diksi, pengimajian, kata kongkrit, majas, versifikasi, dan tipografi puisi. Majas terdiri atas lambang dan kiasan, sedangkan versifikasi terdiri dari rima, ritma, dan metrum.

Terdapat kesamaan antara apa yang diungkapkan oleh Sugiantomas dan Waluyo. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa unsur isi/batin puisi terdiri atas tema, nada, rasa, dan amanat. Sedangkan unsur struktur/fisik terdiri dari diksi, pengimajian, kata kongkrit, kata kias/gaya bahasa, ritma dan rima dan tipografi.

A. Unsur Isi dalam Puisi

Tema

Tema dapat diartikan sebagai pokok persoalan yang menarik minat penyair untuk menciptakan puisi. Tema ini akan bisa dipahami oleh pembaca apabila pembaca memahami keseluruhan isi puisi.

Rasa

Rasa dapat diartikan sikap penyair terhadap objek atau pokok persoalan yang dihadapinya. Sikap penyair terhadap objek ini bisa berupa antipati, simpati, kagum, muak, jengkel, cinta, sinis, benci, terharu, sedih, dan lain-lain.

Nada

Nada merupakan sikap penyair terhadap pembaca. Sikap penyair terhadap pembaca dapat berupa mengajak, menyarankan, menasihati, mengajarai, menggurui, mendikte, memberitahu, dan lain-lain.

Tujuan

Tujuan dapat diartikan sebagai maksud penyair dengan menciptakan puisi. Tujuan ini pada umumnya tidak tersurat melainkan hanya tersirat saja. Tujuan penyair ialah menyampaikan sesuatu yang berarti orang lain.

 

B. Unsur Bentuk atau Struktur Puisi

Diksi

Diksi ialah pilihan kata yang diusahakan penyair yang mampu mengangkat arti sesuai dengan maksud puisinya. Ini berarti bahwa setiap kata di samping mengandung arti tertentu, juga mengandung nilai tertentu.

Pengimajian

Pengimajian merupakan gambaran angan-angan yang diciptakan penyair, baik yang diserap panca indera maupun tidak.

Kata-kata Kongkrit

Kata-kata kongkrit merupakan kata-kata yang jelas makna dan maksudnya serta padat dan efisien. Kata-kata kongkrit mampu memberikan gambaran kongkrit tentang sesuatu.

Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah pengungkapan bahasa (kata-kata atau kalimat) untuk pengertian yang khusus, bukan pengertian yang sebenarnya atau lugas.

Irama

Irama ialah suatu gerak yang teratur, suatu rentetan bunyi yang berulang dan menimbulkan variasi-variasi bunyi yang menciptakan gerak hidup. Dalam pemakaian bahasa, irama merupakan pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Irama ini terdiri dari metrum dan ritme. Metrum ialah irama yang tetap, artinya pergantiannya sudah tetap disebabkan oleh suku kata yang tetap, sehingga alun suara menjadi tetap.

Rima

Rima atau kemerduan bunyi adalah perulangan bunyi yang berselang, baik dalam baris maupun bait puisi. Secara umum rima dapat dilihat menurut letak dalam baris, letak dalam bait, serta dari bunyinya.

Tipografi

Tipografi atau perwajahan puisi adalah bagaimana puisi itu disusun. Baris puisi tidak disusun dalam bentuk baku, namun dalam bentuk tertentu yang mempunyai makna.

 

4. PENGGOLONGAN PUISI

Waluyo (2010 : 13) membagi puisi menjadi puisi naratif, lirik, dan deskriptif, puisi kamar dan auditorium, puisi fisikal, platonik dan metafisikal, pusi subjektif dan objektif, puisi kongkret, puisi diaphan, gelap, dan prismatis, puisi parnasian dan puisi inspiratif, stansa, puisi demonstrasi dan puisi pamplet, dan alegoti. Sumardjo dan Saini KM (1991 : 1) membagi puisi menjadi epik, lirik, dan dramatik.

Berbeda dengan Waluyo dan Sumardjo & Saini KM, Sugiantomas (2020 : 52) menggolongkan puisi berdasarkan kurun waktu, berdasarkan isi, dan berdasarkan bentuk atau gaya ungkapnya.

Berdasarkan kurun waktu, puisi terbagi atas puisi lama, baru, dan modern. Puisi lama terdiri atas mantra, bidal, pantun, talibun, gurindam, syair seloka madah, rubai, nazam, dan gazal. Puisi baru terdiri atas sajak terikat dan soneta. Sajak terikat terdiri atas  distichon (dua seuntai), terzina *tiga seuntai), quatrain (empat seuntai), queen (lima seuntai), sextet (enam seuntai), septina (tujuh seuntai), dan stanza (delapan seuntai). Soneta sendiri merupakan puisi yang jumlahnya 14 seuntai. Puisi modern terdiri atas puisi konvensional dan non-konvensional. Puisi konvensional terdiri atas puisi transparan (diaphan) dan puisi prismatis. Puisi non-konvensional terdiri atas puisi mantra, puisi mbeling, puisi kongkret, dan puisi tipografi.

Berdasarkan isi atau tujuannya puisi dibagi menjadi puisi balada, puisi ode, elegi, hymne, satire, dan epigram.

Berdasarkan gaya ungkapnya terdiri atas puisi naratif, puisi deskriptip, puisi reflektif, puisi epigram, dan puisi lirik.

 

REFERENSI

Aminuddin. 2009. Pengantar Apresiasi Puisi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Dewan Redaksi Ensiklopedi Sastra Indonesia. (2014). Ensiklopedi Sastra Indonesia. Bandung : Titian Ilmu.

Klarer, Mario. (2004). An Introduction to Literary Studies. London and New York: Routledge.

Sugiantomas, Aan. (2020). Langkah Awal Menuju Apresiasi Sastra Indonesia. Cirebon : CV RinMedia

Sumardjo, Jakob, dan Saini KM. (1991). Apresiasi Kesusastraan. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Waluyo, Herman J. (2010). Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta : Erlangga

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here