naskah film pendek gerobak nurani dapur sastra

Naskah film pendek berjudul “Gerobak Nurani” ini dipersembahkan oleh Dapur Sastra Universitas Kuningan.

***

GEROBAK NURANI

Ruang gelap. Suara langkah kaki terdengar. “Jetrek” suara saklar lampu ditekan. Lampu menyala. Suara adzan maghrib terdengar. Terlihat seorang perempuan yang menggendong anaknya, berjalan ke belakang. Ia menekan lagi saklar yang lain. “Jetrek” lampu tengah menyala. Nampak seorang manusia sedang duduk dengan kepala menunduk. Ranjang besi tua, lemari kayu sederhana, meja dan kuri kecil nampak. Suara adzan masih terdengar. Ia tak beranjak dari kursi. Ia raih sebuah gawai dan membaca dengan serius berita tentang kesulitan belajar siswa. Selesai membaca berita, ia membuka whatsapp. Ia buka satu persatu curhatan siswa tentang kesulitan belajar. Ia menarik nafas panjang.

Waktu terus bergerak. Ia masih di kursi. Diraihnya buku pelajaran Bahasa Indonesia. Ia membuka kembali materi-materi yang ada di buku itu. Dibacanya kembali materi yang ia berikan kepada siswa. Ia merenung, menyandarkan kepalanya ke belakang kursi menatap lampu yang tergantung di atasnya.

Sesaat kemudian, gawai berdering. Istrinya mengirim pesan. Isi pesan itu terdiri dari foto dan tulisan. Foto dibuka, nampak gambar periuk beras yang kosong. Di bawahnya tertulis

“Beras sudah hampir habis Pak. Cicilan motor juga sebentar lagi harus dibayar”.

Ia kemudian mengetik

“Sabar Bu, beberapa hari lagi Bapak selesai isolasi. Bapak nanti cari pinjaman”.

Adzan Isya melengking. Cahaya layar gawai membias. Samar-samar terlihat seorang perempuan yang masih memakai mukena menutup Al Quran. Ia tatap anaknya yang sedang tidur. Ia bergegas ke lemari pakaian. Dibukanya lemari itu, diambilnya sebuah celengan. Ia berpikir dan bimbang.

Transisi kebimbangan berpindah ke ruang lelaki. Namun segera kebimbangan itu teralihkan oleh getar gawai.

“Tidak usah memikirkan uang Pak”

“Sudah dapat Bu?”

Sebuah gambar pecahan celengan dan uang yang berserakan nampak di gawai

Lelaki itu menarik nafas berat. Sebuah pesan masuk kembali

“Bapak harus bahagia”

“Wujudkan kebahagiaan itu di imajinasi”.

Ia menatap kosong, menerawang jauh masuk ke imajinasi.

Gawai bergetar, membuyarkan lamunannya. Sebuah pesan masuk.

“Assalamualaikum Wr. Wb. Bapak sehat? Ini Indah Pak, bermaksud memberitahu besok pelajaran Bahasa Indonesia. Terima kasih Pak. Wassalamualaikum Wr. Wb”.

“Waalaikumsalam. Wr. Wb. Alhamdulillah keadaan Bapak membaik. Baik nanti Bapak kirim ke grup untuk materinya. Ada tugas untuk kamu Indah”

“Tugas apa Pak?”

“Tolong kamu ajari Hanif, dia tidak punya gawai. Bapak kan belum bisa berkunjung ke rumahnya karena masih diisolasi”

“Baik Pak, laksanakan”.

“Terima kasih ya”

“Sama-sama Pak”

Ia meraih buku pelajaran dan RPP di mejanya. Dibukanya materi di buku itu. Nampak sebuah materi “Teks Negosiasi”.

Ia merenung, membuka catatan nilai siswa minggu kemarin. Ia mengkerut. Ia buka kembali materi yang diberikan minggu kemarin. Ia semakin gusar. Diamatinya satu per satu keluh kesah siswa.

“Tidak paham Pak”

“Tidak ngerti Pak, kalau hanya tulisan”

“Beda rasanya Pak, antara belajar di kelas dan daring”

Keluh kesah itu semakin berantai. Ia tak sanggup meneruskan. Ia beralih ke buku materi. Renungannya semakin dalam. Tiba-tiba ia tersenyum. Segera ia membuka gawai dan mencari sesuatu. Ditemukannya sebuah rekaman percakapan antara istrinya dan penjual sepatu. Ya, ia sengaja merekamnya karena waktu itu yang dibeli adalah sepatu anaknya. Ia mengedit video itu, menambahkan sedikit demi sedikit penjelasan tentang teks negosiasi. Lalu diunggahnya materi itu ke WA Kelas. Malam perlahan beranjak, ia mematikan lampu dan membaringkan tubuh.

Layar pesan WA dibuka oleh siswa-siswanya. Disimak dan diamati. Siswa-siswanya tersenyum sumringah. Senyum itu pun berakhir dengan wajah tersenyum sang guru melihat catatan nilai anak-anaknya. Sebuah pesan video masuk. Video itu memperlihatkan Indah sedang mengajar Hanif.

Lelaki itu kembali membuka buku pelajaran dan RPP. Lekas-lekas ia menuju halaman tertentu. Di halaman tertentu nampak sebuah teks “Cerita Fantasi”. Pikirannya jauh menerawang kembali ke kesulitan yang dihadapinya. Ia membuka  percakapan dengan istrinya, lalu mulai menulis.

Teks Cerita Fantasi

Guru Lugu dan Boneka Beruang

Tidak ada guru yang mencintai murid-muridnya di desa itu melebihi Guru Lugu. Ya, Guru Lugu begitu bertanggung jawab. Diajarinya setiap murid dengan telaten sampai bisa. Ia tidak pernah meminta bayaran sepeser pun atas ilmu yang diberikan kepada murid-muridnya. Bukan karena ia kaya, tapi ia menjadikan mengajar sebagai pengabdian.

Guru Lugu dan keluarganya hidup sangat sederhana. Ia menghidupi keluarganya dengan hasil bertani. Hasil bertani itu sudah cukup untuk menghidupi keluarganya. Ia pun begitu dermawan. Setiap kali panen, ia bagi hasil panennya kepada tetangga dan orang-orang yang membutuhkan.

Namun pada tahun ini, kehidupan Guru Lugu begitu mengenaskan. Musim kemarau yang berkepanjangan serta hama tikus dan wereng menjadikan padi yang ditanamnya tak bisa dipanen. Suatu waktu, di tengah panas terik kerontang seorang pengemis tua datang ke rumahnya. Pengemis itu terlihat kurus, lemah, dan kehausan. Melihat pengemis itu, rasa iba menghinggapi Guru Lugu. Segera Guru Lugu pergi ke dapur mengambil air minum dan memberikannya pada pengemis itu. Ketika pengemis itu hendak pergi, Guru Lugu segera pergi ke goah, melihat tempayan beras. Tempayan beras itu hampir kosong, hanya tersisa sedikit beras. Tanpa pikir panjang, Guru Lugu kemudian memasukkan beras itu ke kantong dan memberikannya kepada pengemis.

Sore tiba, istri dan anaknya baru kembali dari rumah orang tua. Mereka terlihat sangat lapar sekali. Istrinya segera pergi ke goah d\hendak mengambil beras. Namun ia kaget mendapati tempayan berasnya kosong. Ia keruk tempayan itu, tapi tidak mendapatkan apa-apa. Guru Lugu merasa sangat bersalah. Maghrib dan Isya dilewati dengan rasa lapar yang luar biasa. Di saat seperti itu, hanya air putih yang terus menerus ditenggak. Anaknya menangis terus menerus karena lapar, lalu karena kelelahan ia tertidur. Istrinya pun kemudian tertidur.

Guru Lugu memeluk istri dan anaknya. Ia memandangi anaknya yang sedang tertidur memeluk boneka beruang. Guru Lugu menangis. Air matanya menetes. Tetesan air mata itu jatuh pada boneka beruang. Guru Lugu pun tertidur dengan perasaan sesak dan hancur.

Malam bergerak perlahan. Tiba-tiba boneka beruang yang dipeluk anak Guru Lugu bergerak. Boneka itu bangkit. Boneka beruang itu ternyata punya kesaktian yang luar biasa. Dalam sekejap, boneka beruang itu menghilang. Boneka itu duduk di luar di tempat pengemis siang tadi duduk. Seolah merasakan apa yang dirasakan oleh Guru Lugu dan keluarganya. Boneka beruang itu menangis. Dan tangisan itu tiba-tiba berubah menjadi sekarung beras.

Layar HP terang. Sebuah pesan berbunyi “Itulah cerita fantasi” muncul di grup whatssapp. Anak-anak menyeka air matanya. Tetapi sejenak kemudian mereka tersenyum dan mengangguk.

Sebuah pesan ditulis seorang anak. Pesan itu dibaca oleh anak-anak lain. Mereka sepakat untuk berkumpul di suatu tempat. Satu persatu anak-anak itu datang dan membawa beras. Hanif bertugas mengumpulkan beras itu. Beras sekarang penuh terkumpul.

Fajar mulai terbit, adzan subuh terdengar. Hanif segera mengeluarkan gerobak yang berisi sekarung beras. Dengan penuh semangat ia dorong gerobak itu bersama dua orang temannya menuju rumah sang guru. Sampai di rumah sang guru, ia letakkan beras itu di depan pintu. Ia kemudian segera bersembunyi. Dari dalam rumah, sang istri segera membuka pintu. Ia kaget sekaligus haru melihat sekarung beras berada di depan pintu. Sementara di sisi lain, sang guru membuka pintu, pintu terbuka dan guru itu pun tersenyum.

Layar menghitam. Sebuah tulisan terbaca di layar :

“Untuk semua pahlawan pendidikan”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here