Namanya Murta

Karya Nu Panji

Namanya, Murta. Hanya semenjak dilantik menjadi seorang kepala desa ia lantas menambahkan dua huruf lagi pada namanya itu. Alasannya, ia merasa sudah tidak cocok lagi  bergaul dengan nama lamanya. Menurutnya nama Murta tidak sebanding bersanding dengan dirinya yang sekarang. Murta adalah masa lalu, masa lalu yang kelam dan semua yang kelam harus dibuang jauh-jauh dari hidupnya.

“Sebuah ide perubahan harus segera dilaksanakan dalam bentuk wujud.”

“Perubahan harus dimulai dari diri sendiri.”

“Itu sebabnya mulai hari ini dan seterusnya Aku mengubah namaku menjadi Murtado.” Begitu kilahnya dalam sebuah pidato sesaat setelah ia dilantik.

“Sekarang aku sah menjadi pemimpin desa ini.”

“Maka sudah menjadi tugasku untuk memberikan perubahan ke arah yang lebih baik dan benar.” Tambahnya disertai dengan tawa nyinyir.

Selanjutnya seperti inilah kira-kira gaya memimpin Murtado alias Murta yang ceplas-ceplos, arogan, banyak aturan, tidak kompromi, berlagak tegas tapi cendereung bablas. Ya, dari semenjak dilantik ia sudah menerapkan aturan-aturan yang tidak manusiawi, seperti hormat wajib yang harus dilakukan oleh seluruh warga desa kepadanya setiap pagi dan sore. Setiap harinya kantor tempat ia bertugas selalu dipadati oleh masyarakat. Sayangnya mereka yang datang bukan karena ingin mengambil jatah beras raskin. Kedatangan mereka tak lain tak bukan hanya untuk memberi hormat, menundukan kepala dan mencium tangan sang pemimpin.

“Sekali lagi perubahan harus segera dilakukan dalam bentuk wujud.”

“Saling hormat-menghormati mutlak hukumnya.”

“Yang muda harus menghormati yang tua.”

“Lalu tua muda harus menghormati Aku selaku pimpinanan.” Kata Murtado sambil nyinyir seraya memberikan tangannya untuk diciumi.

 

“Kalau tahu bakalan begini, aku tidak sudi pilih Dia jadi pemimpi.” Celetuk salah seorang yang sedang antri menunggu giliran hormat.

“Ya, ya. Lagi pula kita ini kan orang tua, masa harus hormat sama Dia yang masih muda.”

“Baru berkuasa sudah begini.”

“Bocah gemblung! Kelewatan!” Kata yang lainnya.

“Bagaimana kalau kita demo saja?” Ajak yang lain sambil berbisik.

“Maksudmu?”

“Kita gugat!”

“Kamu berani?”

“Kalau Banyakan, Aku Berani.”

Sementara itu di saat yang bersamaan Murtado alias Murta tiba-tiba marah, ia mencak-mencak pada bocah tanggung yang lepas dari deret antrian dan berlari mendesak ke depan.

“Cacing!”

“Jangan mendahului barisan!”

“Tidak tahu aturan!”

“Maaf Pak, Saya takut terlambat masuk sekolah.”

“Soalnya kemarin dan kemarinnya lagi, Saya  sudah terlambat Pak.” Ucap bocah itu dengan takut.

“Ah, peduli apa Aku!”

“Kau pikir disini cuma kau yang punya kepentingan lain.”

“Tapi Pak Saya takut dimarahi guru Saya.” Keluh bocah itu.

“Ahh, persetan!”

“Kembali kau antri dari belakang!”

“Bilang pada gurumu menghormati itu lebih penting dari sekedar belajar!”

Penuh gontai bocah itu kembali kebarisan belakang, isak tangis tidak lantas membuat orang-orang ditempat itu menjadi terharu. Sebagian dari mereka hanya memandang pasrah, sebagiannya lagi justru merasa takut dengan perlakuan Murtado. Tidak ada demo, tidak ada gugat, dan tidak ada yang berani menentang peraturan keji itu.

 

Seterusya kejadian-kejadian yang sama terus saja berlangsung, aturan demi aturan yang tidak masuk akal terus diterapkan. Semuanya dilakukan hanya untuk menghilangkan dahaga penyakit gila hormat Mutado alias Murta. Bahkan saking ingin dihormatinya Dia sampai kepikiran untuk mengabadikan namanya pada setiap tempat- tempat umum, seperti jalan, sekolah, alun-alun, sampai bale desa.

“Sekali lagi sebuah ide perubahan harus segera dilaksanakan dalam bentuk wujud.”

“Hormat-menghormati itu penting hukumnya.”

“Yang muda harus menghormati yang tua.”

“Lalu tua muda harus menghormati aku sebagai Pemimpin.” Begitu ucapnya dalam sebuah pidato.

“Sebagai pemimpin aku ingin dikenal dengan baik.”

“Itu sebabnya aku simpan namaku pada tempat-tempat umum. Agar apa?”

“Agar kalian mudah mengingat namaku.” Tambahnya kembali dengan tawa nyinyir

 

Semantara Murtado alias Murta sibuk meneruskan pidatonya, beberapa orang juga sibuk berbincang-bincang membicarakan ulah pimpinananya itu.

“Kelewatan, ini sudah benar-benar kelewatan!”

“Masa  seenaknya saja mengganti nama.” Kata seseorang

“Ya, seenaknya saja mengganti nama sekolah.” Celetuk yang lain

“Ya, seenaknya juga mengganti nama bale desa.” Celetuk yang lain pula

“Udah gitu namanya jelek lagi.” Yang lain ikut nyeletuk

“Waduh bahaya, bisa kena kutuk Kita.” Seseorang menambahkan

“Ya, betul.”

“Ini tidak bisa dibiarkan.”

“Harus dihentikan.” Sambut yang lain

“Kita harus berani bersikap.”

“Ya, betul.”

“Kalau begitu mari kita demo!” Ajak seseorang

“Maksudmu?”

“Kita gugat!”

“Kamu berani?

“Kalau banyakan, Aku berani.”

“Ya, bentul kalau banyakan aku juga berani.”

“Ya, mari kita…. Apa tadi namanya?”

“Gugat!”

“Ya, ya Kita gugat!”

“Ya, gugat!” Tambah seseorang

“Ya, ya mari!” Ajak seseorang

“Gugat!” Seorang yang lain menegaskan

“Gugat!” Tambah yang lain

“Gugat!” Tambah yang lain

“Gugat!” Tambah yang lain

“Gugat!” Tambah yang lain

“Gugat!” Tambah yang lain

“Gugat!” Tambah yang Lain

“Gugat!” Suara bersamaan

 

Entah bagaimana awalnya, perlahan namun pasti seruan gugat mulai menelisik dan keluar diantara orang-orang yang berjejal. Keluar diantara hati-hati yang letih. Keluar diantara keluh-keluh yang membatu. Keluar diantara luka-luka yang menganga. Keruan saja seruan gugat menjadi parade suara yang menebar, menghentak dari mulut-mulut yang protes. Semakin naik, semakin meninggi. Berubah menjadi teror kebencian yang siap menerkam keberadaan Murtado alias Murta yang sedari tadi sibuk dengan gaya pidatonya.

 

Dari kejauhan terlihat wajah Murtado mulai cemas, belum sempat Ia mengetahui apa yang terjadi, seruan gugat sudah beralih menjadi gerakan kasar yang menajam menciutkan hati Murtado. Orang-orang mulai mendekat, semakin banyak, semakin banyak, lagi, dan lagi, mengepung kekuasaan Murtado, lalu tanpa komando menyerangnya dengan bengis. Ada yang memukul, ada yang mencekik, ada yang menendang ada pula yang meludah. Mereka bertubi-tubi melampiaskan murkanya. Seperti hewan-hewan lapar orang-orang menyeret Murtado dan menginjak-injaknya tanpa ampun. Seketika Murtado tak berdaya, diam tanpa kata. Tapi seruan gugat terus saja terdengar lantang dan masih mengoyak jasad itu. Di bawah mimbar kekuasaan ia tergolek bersimbah.

 

Tangerang, 30 Agustus 2016

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here