Ketika Gerimis Datang

0
376

Ketika Gerimis Datang

Oleh Tifani Kautsar

 

Aku mendesis pada celah dedaunan, daun pohon cengkeh, daun  bambu, daun pohon kelapa dan pada ilalang di belakang rumah si tua Karto. Daun-daun bergerak menyerupai goyangan sejumlah perempuan di panggung hiburan tadi malam. Malam yang memaksa aku berdebat panjang bersama hujan, sementara pawang bersama kepulan asap kemenyan dan  wewangian kembang tujuh rupa nya, khusu membacakan mantra di bawah panggung si punya hajat.

            “rup cep tiis rup cep tiis, ulah hujan …”

Aku kembali ke awan menyapa sejenak atmosfer dan mengantar awan melangkah ke beberapa tempat. Ini titah sang Khalik, matahari pun mengikutinya ia pejamkan mata kemudian menyelimuti tubuhnya dengan beberapa lembaran awan yang aku antar tadi.

Di bawah sana pada siang yang redup, aku saksikan Karto dan Rusmini bergegas ke luar rumah. Tubuh mereka seolah berpacu, langkah kaki dan gerak tangan yang tidak lagi muda itu cukup cekatan melipat lembaran terpal yang di atasnya terdapat gundukan gabah.

“Uh pasti gerimis lagi! Jika terus begini gabah kita kapan keringnya?”

“Sabar pak, di lumbung masih ada beberapa karung beras. Jadi masih ada stok sampai lima minggu ke depan.” Rusmini mencoba meyakinkan suaminya.

“Ah, aku ingin cepat makan dengan beras baru bu. Kata orang koprasi, beras kita yang satu ini jenis beras  yang rasanya jauh lebih enak dari rojo lele dan pandan wangi.”

Karto merobohkan tubuhnya di kursi yang terbuat dari rotan. Tangan kanannya merogoh kantong baju yang melekat di tubuhnya, ia ambil sebungkus rokok kretek. Aku mendekatinya, korek api yang ia nyalakan membakar satu batang rokok yang diapit telunjuk dan jari tengah tangan kirinya. Rokok itu ia isap, lalu ia buang asap nya ke udara seolah menumpahkan rasa kesalnya. Dan Aku tangkap asapnya. Aku antar dia ke atas.

Matahari semakin lelap dalam tidur siangnya, mendung semakin pekat. Aku bawa tubuhku untuk memberi kabar pada segala penghuni tanah pasundan. Pada kawanan burung yang berikhtiar dan pada satwa lain nya. Pada pepohonan juga pada manusia. Aku masuk pada indrawi remaja yang penuh gairah dan cinta. Laki-laki yang baru mendapat SIM C itu menepikan kendaraannya di salah satu halte bus. Gerimis pun datang bersama riuh dan dinginnya yang khas.

Uh gerimis! Keluhnya dalam hati.

Dalam beberapa menit halte itu sudah dipenuhi orang-orang. Semua berteduh dan mengeluh. Tidak sedikit pula orang-orang itu memaki kedatangan gerimis yang menjelma jadi hujan. Orang-orang itu ada yang berdiri ada pula yang duduk di besi panjang yang sudah dijadikan tempat duduk yang menyerupai sebuah kursi. Mereka adalah  pejalan kaki dan pengendara sepeda motor.

Bersama hujan aku bergerak merayapi tubuh mereka, indra peraba mereka berfungsi dengan baik. Mengetuk perut mereka sendiri, segala otot di dalamnya mulai bereaksi sehingga menciptakan suara-suara yang sering mereka sebut musik orkestra atau keroncongan entah apa hubungannya dengan rasa lapar.

Ah lapar!” cetus salah satu pemuda

“sama, hujan seperti ini enaknya makan yang hangat-hangat nih!” timpal rekannya yang mulai berhalusinasi.

Hujan menghampiriku dan bicara soal keluh kesah yang selalu menjadi tema cerita manusia kala gerimis atau pun ketika hujan datang. Dia tidak bersedih atau merasa bersalah. Dia hanya bicara soal titah sang khalik. Menurutnya dia tidak perlu marah atau bersedih karena tidak sedikit pula yang merasa bersyukur atas kedatangan nya. Seperti yang nampak pada tukang baso dorong. Ketika dia melewati halte itu, ia langsung dipanggil oleh salah seorang perempuan separuh baya yang ikut duduk bersama ke dua anaknya yang masih gadis. Mereka membeli baso.

Melihat perempuan dengan ke dua anaknya menikmati baso dengan lahap, tanpa dikomando lagi semua orang yang di halte menyerbu tukang baso itu. Seperti sebuah naluri yang memanggil hasrat mereka untuk bergerak. Tubuh si tukang baso tenggelam ditelan kerumunan orang-orang yang membeli baso nya. Sesuatu yang tak terduka sebelumnya. Dalam lima puluh mangkok biasanya hanya sampai dua puluh mangkok terjual, namun kali ini lima puluh mangkok pun masih kurang. Si tukang baso kewalahan karena jumlah mangkoknya tak dapat memenuhi  jumlah pesanan.

“Alhamdulillah…” ucap si tukang baso lirih, kedua bola matanya berair. Rasa syukur, haru dan bahagia terasa menyelimuti dirinya. Dalam jeda yang begitu singkat aku  lihat kedua tangan si tukang baso itu menadah hujan. Aku menangkap suara dari mulutnya,

“Terimkasih Tuhan. Terimakasih hujan.”  Lalu Ia senyum-senyum sendiri.

Aku kembali menyisir dan menyentuh segalanya diringi kilatan di balik awan yang tentu dengan gemuruhnya yang khas. Gerimis menjelma jadi hujan deras dan ramai, saat itu pula aku berhasil masuk ke dalam rumah si tua Karto lewat celah jendela kayu mahoni. Karto beserta istrinya masih duduk di ruang tamu.

“Bu, hujan dengan udara dingin seperti ini mengingatkan aku pada Darwis. Bagaimana kabar dia bersama istri dan anaknya ya bu?”

“Iya pak, ibu juga rindu pada mereka terlebih pada Kelana, cucu kita. Ibu masih ingat ketika Kelana hujan-hujanan di depan rumah. Ibu masak wedang jahe dan Kelana sangat menyukainya.” Sarmi dan karto menerawang jauh mengingat masa itu. Kemudian masuk ke masa Darwis yang beranjak dewasa dan menikahi anak lurah, serta mengingat-ingat masa berkumpul bersama cucunya yang selalu memberikan kehangatan dan warna bagi hidup mereka yang luar biasa. Lima tahun sudah tak terdengar lagi kabar dari anak, mantu dan cucunya.

Aku bawa ingatan mereka ke semua ruang waktu yang tanpa jeda, tak berhimpit dan luas menganga lalu mereka leluasa memanggil kembali masa-masa yang meraka inginkan.

Assalamualaikum” Terdengar salam setelah bunyi ketukan pintu.

Sarmi dan Karto saling berpandangan sejenak. Suara di balik pintu itu tidak begitu asing. Sarmi bergegas membukakan pintu.

“Darwis, Astirah, Kelana!”

“Bapak, mereka datang!” Sarmi menyambut mereka dengan riang. Sarmi langsung menggendong Kelana dan dengan langkah cepat ia membawa cucunya ke dalam.

“Pak, coba tebak siapa yang datang?”

“Aih, Kelana? Sudah besar kamu cu.” Karto langsung merebut Kelana dari Sarmi dan menciumi pipi Kelana dengan gemasnya.

Aku melihat dengan jelas muka kebahagiaan dari kedua orang tua itu. Darwis, Astirah dan Kelana ikut larut dalam suasana suka cita ini. Pelan-pelan aku meraba tubuh Darwis.

“Bu. Pak, sebelumnya aku minta maaf, selama ini  kami belum sempat memberikan kabar. Dan jujur saja hari ini pun kami tidak bermaksud pulang. Rencananya akhir tahun ini kami baru kemari” Darwis bercerita, tangannya mengeluarkan sebatang rokok. Kelana masih ada dalam pelukan kakeknya, sementara Astirah dan Sarmi menuju dapur mengambil minuman teh hangat dan beberapa makanan kampung.

“Tadinya kami tidak akan mampir. Kami menuju waduk Darma, kebetulan kami ikut serta dalam program rekreasi bersama yang diadakan perusahaan tempat saya bekerja pak.”

“Di tengah perjalanan, Kendaraan rombongan kami berhenti. Ada beberapa petugas kemanan yang memberitahukan bahwa jalan menuju Waduk Darma putus, akibat longsor.” Darwis mengisap rokok nya kemudian mengehempaskan asapnya ke udara. Aku tangkap asapnya dan ku bawa berputar di langit-langit rumah Karto.

“Karena hujan semakin deras dan kami takut terjadi apa-apa di jalan, saya memutuskan tidak pulang ke Jakarta tapi ke sini. Istri dan Kelana pun setuju pak.”

“Kami rindu bapak dan ibu.” Sambung Astirah sambil membawa beberapa piring berisi makanan khas kampung, rangginang yang masih panas. Sarmi mengikutinya dan membawa beberapa gelas teh hangat.

“Alhamdulillah ini adalah karunia tuhan. Bapak dan ibu baru saja membicarakan kalian. Melihat hujan dan suasana seperti ini membawa kami ke beberapa kenangan. Kenangan tentang kehadiran kalian yang sudah lama tak datang kemari.” Tutur Karto sambil mencium kening cucunya.

“Tuhan memberi jalan dan jawaban tentang rindu kami kepada kalian. Dan lewat hujan lah rindu kami terjawab.” Sambung Sarmi, senyumnya begitu merekah.

“Benar bu, Tuhan lewat hujan nya menuntun kami kepada ibu dan bapak.” Tutur Astirah

“Dan hari ini pun saya beritahukan kepada bapak dan ibu, bahwa Kelana akan segera punya adik.”

“Astirah, kamu hamil lagi?” Tanya Sarmi penasaran. Astirah hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Alhamdulillah” Ucap Karto dan Astirah serentak. Sarmi memeluk Astirah. Mereka di ruangan itu larut dalam kebahagiaan.

Dari balik pentilasi udara hujan mengintip. Lalu aku menghampirinya. Hujan bicara dalam bisik kepadaku tentang keluh kesah anak manusia, tentang isyarat alam dan tentang rahasia dibalik isyarat yang diberikan sang maha pencipta bagi penghuni alam ini.

Hujan pelan-pelan reda. Ramainya surut dan dia kembali menjadi gerimis. Aku mengajak awan bergerak kesegala arah dan kini matahari senja begitu terang, sinarnya menembus tirai gerimis yang mulai menipis.

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here