artikel FREE WILL DAN DUALISME RUANG dapur sastra universitas kuningan
Science - Neurons v free will | 1843 magazine | The Economist

Oleh: Candrika Adhiyasa

Apakah manusia itu memiliki kehendak bebas untuk menentukan dirinya sendiri—menjadi manusia yang dikehendakinya; memproduksi makna-makna tertentu mengenai eksistensinya? Jawabannya adalah ya, tetapi jawaban ini terbatas. Sebuah jawaban dimensional. Maka akan saya terangkan kembali mengenai transendensi dan keterkaitannya dengan fakta atau segala sesuatu yang disepakati/dianggap sebagai kebenaran mutlak.

Ada dua filosofi yang saling menentang mengenai persoalan ini. Saya mengambil dua perspektif yang menilai bahwa manusia memiliki free will; kesadaran sepenuhnya akan kebebasan dan otoritasnya akan dirinya sendiri. Jean-Paul Sartre menyatakan bahwa, “we are our choices.” Pilihan-pilihan bebas inilah yang membentuk ke-aku-an manusia dan determinisme tertinggi adalah determinisme individu terhadap dirinya sendiri. Pemikiran ini populer di periode modern. Sedangkan antitesis dari perspektif free will, yang menyatakan bahwa manusia sepenuhnya dikendalikan oleh ‘alam’ (sesuatu di-luar-dirinya), disampaikan oleh Schopenhauer, “everyone takes the limit of their own vision for the limit of the world.” Manusia sekadar ‘bagian’ dari alam semesta (termasuk pula lingkup metafisika), yang dengan demikian, maka manusia tidak memiliki otoritas atas dirinya sendiri, meski barangkali mereka tak menyadari itu. Manusia (dan segala pilihannya) ditentukan sepenuhnya oleh kehendak alam. Pemikiran ini populer di periode klasik.

Dengan demikian, saya menemukan dualisme ontologis yang membuat manusia terjebak dalam kebingungan eksistensial. Maka, sekurang-kurangnya saya akan membagi ruang hidup manusia ke dalam dua dimensi. Saya berkata sekurang-kurangnya karena ada kemungkinan bahwa dimensi ini lebih dari dua, atau bahkan bisa saja tak terbatas. Namun jawaban ‘tak terbatas’ bukanlah jawaban yang diperlukan, meskipun logis menimbang segala yang dapat dipikirkan adalah mungkin. Tetapi jawaban semacam ini hanya akan membuat kita terlempar pada ruang kebingungan yang hampa—yang bertolak belakang dengan tujuan kita untuk mengonseptualisasikan itu.

Dimensi itu saya bagi ke dalam dua bagian. Pertama adalah dimensi imanen (immanent-layer). Dimensi ini merupakan dimensi rasional yang dapat dipahami oleh manusia dengan segala peranti berpikirnya. Dimensi ini memungkinkan manusia menjadi subjek—pusat dari segala otoritas pemaknaan—mengenai segala hal yang dapat diidentifikasi. Dalam dimensi ini hukum yang berlaku adalah kausalitas. Segala variabel yang tersebar menjadi medium—yang maka dari itu netral—dan tidak lebih dari sekadar benda yang ada tanpa alasan dan tujuan. Otoritas subjektif manusia dalam dimensi ini dapat memproduksi makna tertentu kepada benda-benda (dan tak terbatas kepada benda-benda material, tetapi juga fenomena). Kedua adalah dimensi transenden (trancendent-layer). Dimensi ini merupakan dimensi irasional (di luar nalar yang mungkin dimengerti), yang tak terpola, tak terpahami, tak terbayangkan, dan juga tak terbatas. Dalam dimensi ini segala yang mungkin dipikirkan manusia sebagai kebenaran akan bertemu kebuntuan. Satu-satunya jalan untuk memahami dimensi ini adalah dengan meyakininya begitu saja sebagai suatu fakta tak terbantahkan.

Oleh karena Tuhan—kemungkinan besar—berada di dalam (atau di antara, atau di sekitar—entahlah) dimensi transenden, maka saya menyadari bahwa Tuhan adalah eksistensi (Subjek/Objek) dengan kemungkinan tak terbatas, tak terpahami, dan tak terbayangkan. Suatu redaksi menyebutkan bahwa; bila Tuhan dapat dimengerti, maka Ia bukan Tuhan yang sebenarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here