Decorative Images

Dongeng merupakan salah satu karya sastra yang digolongkan ke dalam bentuk prosa fiksi. Dongeng disebarkan dari mulut ke mulut (lisan) dan termasuk ke dalam karya sastra lama. Dongeng berdasarkan isinya dibagi menjadi mite, sage, fabel, legenda, dan cerita jenaka. Nah kali ini kita akan mengapresiasi salah satu dongeng yang ada di Kabupaten Kuningan, yaitu dongeng Asal Usul Desa Maleber. Selamat mengapresiasi…

AWAL MULA DESA MALEBER-KUNINGAN

Ditulis oleh Toto Sazalitohir

Penutur Bapak Ewo (Mantan Kepala Desa)

 

Pada suatu masa di daerah Kuningan, berdiri satu kerajaan yang bernama Nagri Laris Manis. Kerajaan tersebut dipegang kekuasaannya oleh seorang ratu yang sangat cantik bernama Putri Gandayang Sari. Di tengah alun-alun Nagri Laris Manis terdapat pohon beringin yang sangat rindang, daunnya yang lebat dan luas membuat hawa menjadi sejuk dan rakyat kerajaan terlindungi dari panas.

Di lain daerah, terdapat kerajaan yang bernama Nagara Pasir Pugag. Rajanya seorang raksasa bernama Duruwiksa. Duruwiksa ingin sekali menjadikan Puri Gandayang Sari sebagai istrinya. Suatu ketika Duruwiksa melamar Putri Gandayang Sari, tetapi ditolak karena Putri tidak mau memiliki suami raksasa. Karena lamarannya ditolak, Duruwiksa menghilang dan masuk raganya ke pohon beringin yang ada di Nagri Laris Manis. Sehingga terjadilah Malapetaka. Pohon beringin mendadak menjadi kering, daunnya berguguran, batangnya menjadi ranting kering, sehingga hawa di daerah tersebut menjadi panas dan terjadi kemarau yang panjang. Tanaman yang tadinya subur menjadi kering dan gagal panen. Hidup rakyat pun menjadi susah.

Suatu waktu Nagri Laris Manis kedatangan seorang ksatria gagah perkasa yang sangat tampan dari Negara Alas Peuntas. Kedatangan ksatria itu tidak lain untuk melamar Puti Gandayang Sari. Ksatria itu bernama Samundaka. Lamaran Samundaka diterima oleh Putri Gandayang Sari. Tetapi Samundaka terlebih dahulu harus memenuhi dua syarat yang diajukan Putri Gandayang Sari. Syarat pertama Samundaka harus meluruskan sungai Cisanggarung untuk berlayarnya Putri Gandayang Sari dengan Samundaka apabila sudah menikah. Pada waktu itu, sungai Cisanggarung tidak lurus, sehingga ketika berlayar harus memutar dulu ke Pasir Pugag. Sedangkan Pasir Pugag merupakan negara Duruwiksa yang lamarannya ditolak Putri Gandayang Sari. Sudah pasti Duruwiksa akan mengganggu kalau mereka berlayar melewati negaranya. Syarat yang kedua, Samundaka harus mengalahkan Duruwiksa, agar kesulitan yang dialami rakyatnya hilang. Kemudian Samundaka bersedia memenuhi kedua syarat tersebut.

Untuk memenuhi syarat pertama, Samundaka mengeluarkan kesaktian yaitu membesarkan kemaluannya dan memukulkannya, sehingga Pasir Pugag terbelah menjadi dua. Sampai sekarang Cisanggarung menjadi lurus. Pasir Pugag yang tadinya satu terbelah menjadi dua. Di sebelah selatan Cisanggarung tetap menjadi Pasir Pugag. Sementara di sebelah utara menjadi Pasir Angin.

Setelah Cisanggarung Lurus, Samundaka kemudian pergi ke alun-alun untuk memenuhi syarat kedua. Dengan kesaktiannya, Samndaka masuk ke dalam pohon beringin. Terjadiah pertempuran hebat antara Samundaka dan Duruwiksa. Akhirnya Duruwiksa kalah. Duruwiksa pun akhirnya kabur ke satu rawa dan masuk ke dalamnya. Sampai sekarang rawa tersebut bernama Cimarubus, tempat masuknya (mubus) Duruwiksa sewaktu dikejar Samundaka. Dari rawa itu keluar air jernih, kemudian menjadi sebuah sungai.

Mendadak setelah itu, pohon beringin yang tadinya kering menjadi lebat kembali. Nagri Laris Manis pun menjadi sejuk kembali. Kerajaan menjadi subur dan makmur. Rakyat Nagri Laris Manis pun bersorak gembira, karena kehidupannya kembali seperti semula. Nagri Laris Manis menjadi negara gemah ripah repeh rapih. Daun beringin yang semula kering karena dimasuki Duruwiksa, mendadak menjadi maleber (melebar), memayungi Nagri Laris Manis.

Karena kedua syarat telah dipenuhi oleh Samundaka, Putri Gandayang Sari pun menikah dengan Samundaka. Seterusnya negara yang tadinya dipimpin Putri Gandayang Sari diserahkan kepada Samundaka. Semua rakyat berbakti kepada raja dan ratunya.

Dari kejadian pohon beringin yang kering dan daunnya mati menjadi melebar (maleber) kembali dan berwarna hijau, kemudian ditetapkan menjadi Desa Maleber sampai sekarang. Maleber yang berasal dari kata leber artinya lebar (tidak kekurangan). Keluar perkataan dari Raja Samundaka bahwa Desa Maleber akan menjadi desa yang rakyatnya leber keberaniannya, akan menjadi desa yang unggul dari desa-desa lain, desa yang namanya akan melebar kemana-mana, khususnya di Kuningan. Kemudian sungai yang airnya keluar dari Cimarubus dinamai Cimaleber yang airnya jernih dan juga tidak pernah kering walau terjadi kemarau panjang.

Pembaca juga bisa menyaksikan dongeng Awal Mula Desa Maleber-Kuningan di kanal youtube Dapur Sastra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here