Ilustrative Images

BADUGANG JAYA

Ditulis oleh Nana Mulyana

 

Pada jaman dahulu kala di Desa Timbang Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan, tersebutlah sebuah kerajaan dengan nama rajanya Prabu Timbang Luhur. Sang raja mempunyai seorang putri yang cantik jelita, bernama Putri Rundasih.

Alkisah ada seorang jejaka bernama Badugang Jaya berniat melamar sang Putri. Namun ketika Badugang Jaya melamar, sang putri menolak secara halus.

Kakang Badugang, bukannya aku tidak mau menerima lamaranmu, namun aku belum berniat berumah tangga. Silahkan kakanda mencari wanita lain yang lebih segala-galanya dari aku. Jawab sang putri ketika dilamar Badugang Jaya.

Badugang Jaya tetap memaksa agar lamarannya diterima sang putri. Akhirnya karena Badugang Jaya tetap memaksa, sang putri menjadi pasrah.

Kakanda Badugang Jaya, aku mau menerima lamaranmu. Namun ada syarat yang harus kau kerjakan. Kau harus membuat sungai dari Dawuan Dalem dan tembus ke Keraton Timbang Luhur. Pekerjaan ini hrus selesai dalam jangka waktu satu malam sebelum terbit fajar. Kalau kakanda tidak mampu mengerjakan permintaanku, berarti niatmu untuk mempersuntingku gagal total. Perkawinan kita tidak akan terlaksana. Kata Putri Rundasih.

Permintaan Putri Rundasih disanggupi Badugang Jaya. Malam harinya Badugang Jaya mulai membuat sungai yang akan menghubungkan Dawuan Dalem ke Keraton Timbang Luhur. Menurut cerita, Badugang Jaya membuat sungai tidak mempergunakan cangku, linggis, dan sebagainya. Namun dengan kepunyaannya, memanfaatkan air kencingnya. Entah model apa kepunyaannya Badugang Jaya, barangkali mirip buldozer.

Sang putri terkejut melihat pekerjaan Badugang Jaya hampir selesai, padahal waktu masih malam. Untuk menggagalkan pekerjaan Badugang Jaya, sang putri lari ke arah timur membawa kain putih lalu dibentangkan di sana. Di belakang kain putih dipasang obor, sehingga terlihat dari jauh persis matahari telah terbit.

Putri Rundasih menghampiri Badugang Jaya yang sedang menyelesaikan pembuatan sungai.

Kakang Badugang, coba lihat fajar telah menyingsing di ufuk timur. Kau dengar kokok ayam pun berderai. Kau tak mampu mengerjakan permintaanku dalam waktu yang telah ditentukan. Berarti lamaranmu tidak akan kuterima. Dan perkawinan kita tidak bisa terlaksana.

Badugang Jaya marah. Putri Rundasih lari sampai ke wilayah Panambangan di Sndang laut Cirebon. Badugang Jaya terus mengejar sang putri kemana saja larinya. Di suatu tempat, sang putri terdesak. Putri Rundasih masuk ke sebuah gua. Di dalam gua, Putri Rundasih nyeupah (menginang), dan itu merupakan kegemarannya.

Badugang Jaya mengambil bambu kecil (tamiyang). Lalu ditusuk-tusukkan kepada Putri Rundasih yang ada di dalam gua. Ujung bambu oleh Putri Rundasih diludahi, sehingga warnanya merah mirip darah. Badugang Jaya mengira Putri Rundasih telah mati, karena di ujung bambu terlihat warna merah seperti cucuran darah. Kini, Badugang Jaya meras puas, karena telah membunuh Putri Rundasih yang telah menipunya. Badugang Jaya kemudian pergi ke arah selatan.

Putri Rundasih merasa pengap berada dalam gua. Maka dia keluar dari gua, setelah merasa yakin situasi aman. Ketika Putri Rundasih keluar, terlihat kembali oleh Badugang Jaya. Maka Putri Rundasih kemudian dikejar kembali.

Pengejaran sang putri sampai ke daerah Maneungteung. Putri Rundasih terdesakdan terpeleset masuk Sungai Maneungteung. Badugang Jaya pun ikut menceburkan diri ke sungai itu.

Kini Badugang Jaya menjadi gentayangan sebagai buaya putih di Sungai Maneungteung. Sedangkan Putri Rundasih menjadi Putri Maneungteung. Ketika Putri Rundasih melayang di atas Sungai Maneungteung, ia berkata

Mudah-mudahan turunanku kelak tidak ada yang cantik seperti aku. Ternyata kecantikan tidak selamanya membawa kebahagiaan, namun membawa kesengsaraan seperti yang dialami olehku.

Pembaca juga bisa menyaksikan dongeng ini di kanal youtube Dapur Sastra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here