Ilustartive Images

Ada satu pertanyaan yang perlu ditekankan ketika saya terbawa kesal setelah membaca naskah monolog berjudul “Aeng/Alimin” yang ditulis oleh Putu Wijaya dari sudut kegelisahan utopia, kira-kira bagaimana mewujudkan hukum dan politik yang ideal?

Tetapi sebelum menjawab pertanyaan itu, sebagai pembuka dialektika, saya justru teringat dengan sosok pemuda sosialis, Sok Hok Gie, yang keras kepala dengan idealisme politiknya melalui Catatan Seorang Demonstran. Gie, bagi saya, adalah sosok gemilang yang membuat dirinya terlihat bodoh, gila, dan tidak realistis. Tapi justru hal itu yang menimbang sebagai pandangan utopia dengan segala kemustahilannya. Ia memang patut disebut sebagai sosok optimisme, yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sosok yang pesimis terhadap wacana revolusioner, George Orwell. Namun sayangnya, kematian Gie meninggalkan pikiran-pikiran yang mengkristal—hingga dari masa kejatuhan orde lama sampai masa sekarang, kejernihan Gie terasa nihil. Memang, sulit ketika ada setetes air jernih yang harus menjernihkan genangan air got. Dan mungkin juga, barangkali ada benarnya, kemanusiaan yang autentik akan terlihat bodoh, tolol, dan gila, ketimbang sosok bromocorah—Alimin—dengan sikap yang realistisnya tanpa perlu mendramatisir seperti dalam naskah Aeng/Alimin.

Pada mulanya seorang tokoh utama, Alimin, adalah sosok yang sudah tak peduli dengan lingkungan sekitar. Ia tidak ingin diganggu, dan tidak membutuhkan orang lain. Hal itu terjadi ketika ia merasa dikhianati perempuannya dan melihat kejahatan yang terjadi pada orang tuanya, juga pandangan orang-orang di sekitarnya yang sinis. Sehingga dari pengalaman itu memantik Alimin untuk melakukan hal-hal yang keji. Ia membunuh perempuannya, dan juga membunuh anak kecil, tapi ketika ia dibawa ke pengadilan justru mengaku melakukan semua itu dengan keadaan tenang dan waras sehingga harus terjerat dalam jeruji besi. Kemudian, kelanjutan alur diceritakan dengan tempo yang spontan, sehingga untuk mencerap kecenderungan dari naskah ini: Putu seakan ingin menjadikan pengalaman Alimin sebagai perantara saja untuk selanjutnya melancarkan laku kritik terhadap hukum dan politik seperti pada pengakuan Alimin—ketika ia ingin insaf atas perbuatannya tapi justru mengaku mendapat bisikan dari Tuhan sebagai berikut:

“Penjahat harus tetap jadi penjahat, supaya kejahatan jelas tidak kabur dengan kebaikan. Dunia sedang galau batas-batas yang sudah tak jelas.”

Dari pengakuan Alimin, Putu sekali ini, ingin menginterpretasikan warna kebaikan dan keburukan (kejahatan) agar nampak jelas karena belakangan ini kita dihadapkan dengan kenyataan yang mengombang-ambing perasaan kemanusiaan, terutama dalam perihal hukum dan politik. Apalagi di antara baik dan buruk merupakan kata sifat yang tak menentu batasannya. Hal ini boleh dikatakan, bahwa baik dan buruk tergantung bagaimana kita memandang suatu objek dengan perspektif tertentu. Seperti halnya legenda superhero, Robin Hood, kita tak tahu apakah mencuri harta dari orang kaya untuk dibagikan kepada orang miskin adalah wujud kebaikan, itu tergantung sudut pandang. Tetapi dalam kasus Alimin seakan merefleksikan kejelasan dalam memandang hitam dan putih.

Maka boleh dikatakan bahwa dalam naskah monolog ini penulis membawakan seorang tokoh Alimin dengan karakter negatifnya yang menjadi antitesis terhadap konstruksi hukum, juga politik, yang sebenarnya sangat jauh untuk dikatakan ideal. Sebab segala sistem dan peraturan hukum yang mengandung wacana kebaikan, kerap dianggap hanya sebagai perisai saja agar mereka, para pemimpin, dapat berlindung di balik semua itu, atau bisa juga dijadikan senjata untuk mencabik-cabik orang yang merepotkan negara. Dalam hal tersebut, ketika Alimin dibawa ke pengadilan karena kekejiannya, ia berkata dengan lantang: Mengapa seorang wanita yang tercabik lehernya mendapat perhatian yang begitu besar, sementara leher saya dan jutaan orang lain yang dicabik-cabik tak pernah diperhatikan. Apa arti kematian seorang pelacur ini dibandingkann dengan kematian kita semua beramai-ramai tanpa kita sadari?

Perbandingan dengan seseorang yang mencabik-cabik jutaan orang yang dimaksud Alimin, ialah para pembual kebijakan dan pembuat aturan hukum yang tanpa kita sadari, padahal lebih keji ketimbang Alimin. Mereka mencabik orang-orang dengan keadaan lebih sadar daripada Alimin, bahkan terkadang juga serampangan, seperti arit yang membabat rumput-rumput kering—rumput-rumput yang meranggas karena kelaparan—yang dianggap merepotkan arah laju kebijakan negara. Sekali lagi, ini merupakan krisis antar batasan baik dan buruk yang ingin disampaikan oleh Putu, sehingga dalam perlakuan Alimin yang ketika itu mendapatkan kesempatan untuk bebas dari penjara, tokoh itu malah mengalami skeptis, bahkan pesimisme terhadap nilai-nilai moral yang jungkir balik, dan ia berpikir akan lebih baik jika kembali ke penjara seperti halnya keinginan pada dialognya sebagai berikut:

“Masukan aku ke penjara lagi, biar jiwaku bebas, di sana semuanya masih jelas mana hitam mana putih, di dalam kehidupan sekarang yang ada hanya kebingungan”.

Pernyataan tersebut merupakan paradoks bahwa tokoh Alimin adalah simbolis dari kejahatan yang dikonstruksi oleh Putu dengan penyajian secara realistis:

“Aku telah dipilih mewakili zaman. Menjadi contoh bromocorah. Kau harus bersyukur ini kehormatan besar. Tak ada orang berani menjadi penjahat, walaupun mereka melakukan kejahatan. Aku bukan penjahat biasa. Aku ini lambang”.

Sikap Putu dalam perihal ini menjadi pandangan yang sensitif terhadap persoalan mendasar yang sebenarnya dekat dengan diri manusia itu sendiri. Meskipun dalam naskah ini terdapat alur yang spontanitas tanpa adanya latar belakang yang saling menyimpul, tetapi ia cukup berhasil mengiris konflik batin dengan perlahan sebagai kritik tajam kasus perlakuan Alimin terhadap kebobrokan hukum dan politik. Hal itu dijelaskan melalui batasan simbol baik dan buruk di antara kejahatan Alimin yang terlihat paradoks. Persoalan tersebut sangat terasa ketika menjajaki konflik batin Alimin, karena sebagai pembaca mungkin akan terseret kesal dengan perlakuan Si Bajingan itu. Namun sebenarnya tidak menutupkemungkinan bahwa semua orang bisa saja menjadi seperti Alimin. Sebab barangkali hidup tidak bisa lepas dari kepuasan, semuanya meletup tanpa kesadaran dengan gejolak egoisme dan skeptisisme yang sulit dikendalikan dari kebusukan realitas.

Sementara itu, kembali menyoal hukum dan politik yang ideal, semua itu sebenarnya bisa terwujud meskipun hanya dalam imajinasi belaka. Karena sampai detik ini, pesimisme terhadap hukum dan politik merupakan kegagalan yang mengaburkan batasan baik dan buruk sehingga sulit untuk dibangun kembali. Dan kalau sudah seperti ini, barangkali dalih politik Aristoteles, Plato, bahkan Cicero, hanya tinggal pitutur kolot yang tak perlu didengarkan. Maka biarlah mereka merecok di sebuah simposium sampai dehidrasi hingga tenggorokan jiwanya mengering. Dan bagi orang-orang kecil, atau seperti Alimin, yang keduanya hanya merepotkan negara, tak perlu ikut campur. Lebih baik mengkhayal cabul saja, itu lebih nikmat ketimbang memikirkan hukum dan segala tetek bengek tentang politik.

Oleh Muhamad Saepudin

Cirebon, 2021

Pembaca juga bisa menonton pementasan monolog naskah ini di kanal youtube Dapur Sastra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here