Kali ini Dapur Sastra mempersembahkan cerpen berjudul “Tiga Kisah Dalam Dua Kertas” buah karya Lin.  Selamat mengapresiasi!

 

Tiga kisah Dalam Dua Kertas

Karya Lin

 

Ini adalah kisahku dan ini adalah salah satu kolom kehidupanku dari sekian banyak kolom-kolom yang ada. Sebuah kisah aku yang kehilangan logika, aku yakin sungguh-sungguh yakin tidak akan ada yang mengerti benar tentang semua kisah ini, sebab ibarat pertunjukan sebuah teater akulah yang menjadi pemeran utama dalam kisah ini.

Dia!!! Tiba-tiba saja datang tanpa memberitahukan sebelumnya, dia datang seperti halnya hujan deras yang tiba-tiba turun saat langit sedang terik atau bahkan seperti halnya tsunami yang tiba-tiba saja terjadi di atas laut yang tidak berombak.

Tidak ada desiran aneh dihatiku saat pertama kali dia datang, semuanya begitu biasa. Namun lain halnya saat ini, saat dia tidak lagi kutemukan di setiap sudut pandang, ada desiran aneh di hatiku yang tidak dapat aku lukiskan, dan itu membawaku pada prosesi kehilangan logika.

Lebih seminggu ini aku tidak menangkap wajahnya dalam penglihatanku, ada keinginan di hati untuk dapat menangkap wajahnya, menatap wajahnya lekat-lekat menghapal setiap guratan wajahnya agar kelak kala aku tidak menemukan lagi wajahnya dalam setiap sudut pandang, aku hanya cukup memejamkan mata. Aku ingin dapat mengatakan semuanya yang ada di hatiku, rinduku, sukaku, sedihku, dan semuanya seperti halnya membuka sebuah peti berisi harta karun kemudian mengeluarkan semua isinya.

Aku tidak tahu bagaimana rasa ini tumbuh, benar-benar aku tidak menyadarinya. Tiba-tiba saja rasa ini telah ada dan memenuhi semua ruang di hatiku bahkan menjalar ke setiap sel-sel saraf di otakku, ini bukanlah sebuah bualan cinta tapi ini adalah kisahku, rasaku.

“Apa kau tahu tentang semua itu? Tentu saja tidak, bukan begitu?”

Untuk kali kedua kukatakan, sungguh benar adanya saat kali pertama kau datang bagiku kau tidak begitu berarti, namun di saat waktu kian melarut kau lebih indah dari matahari yang tenggelam di ufuk barat, engkau juga membuat sebuah getaran di hatiku, kau bahkan mengikutiku hingga alam bawah sadar, setiap saat terus berlari di dalam ingatanku, menampakkan wajahmu di setiap sudut pandang, membuatku sulit bernafas serasa di himpit gunung es, dan kala gunung es mencair logikaku tidak turut sadar bahkan membuat sebuah perdebatan.

“Apa kau sadar memiliki perasaan seperti itu untuk dia yang terpaut beberapa tahun di atasmu?

Apa yang salah dengan perasaan seperti itu? Bukankah itu perasaan yang sangat manusiawi yang oleh Tuhan setiap orang telah dan akan dikaruniai perasaan seperti itu!

Lalu bagaimana jika hatinya telah berpemilik? Apakah kau waras menyukai orang yang hatinya telah berpemilik?

Peduli apa, aku tidak memaksanya untuk memiliki perasaan seperti itu untukku, bukan begitu? Benar bukan? Jadi biarlah dia dengan hatinya yang berpemilik dan aku tetap dengan perasaan seperti itu untuk dia!”

Perdebatan itu terus memanjang dan tidak berujung, layaknya jalan yang berbelit-belit dan tidak menemukan titik temu, dan ini sekali lagi kukatakan membawaku pada proses kehilangan logika. Mengapa kukatakan demikian? Karena kini aku tidak lagi menggunakan logika untuk menahan perasaan sukaku, sedihku, rinduku untuk dia.

Aku benar-benar rindu saat-saat kau berdiri di depan dan menerangkan dengan teliti apa yang ingin kau sampaikan. Aku rindu melihat mimik mukamu yang menggambarkan guratan kekaguman.

Tapi masihkah ada kesempatan bagiku untuk bisa melihat semua itu lagi? Sedang akhir minggu ini kau akan memperlihatkan punggung yang kian menjauh dari pelupuk mata. Itulah saat-saat yang benar-benar aku benci, ditinggal pergi dan kesepian. Dan aku tidak dapat menangkap wajahmu dalam setiap sudut pandang, pada saat seperti itu mungkin bisa sampai mati rasa karena rasaku, sukaku akan terbawa seiring menghilangnya punggungmu di balik kesunyian, tapi bisa juga itu tidak sampai membawaku hingga mati rasa bahkan itu merupakan jalan dimana kau akan semakin terpatri dalam hati dan ingatanku, hingga aku tidak dapat melupakanmu.

Jadi biarkanlah aku mengenangmu dalam diamku yang angkuh. Dan kala aku bertemu denganmu, aku akan berlagak tidak memandang dan mencarimu sebab aku begitu takut jika kuperlihatkan sukaku, sedihku, rinduku, rasaku di hadapanmu, kau akan semakin menjauh.

Mungkin setelah membaca ini semua kau akan berpikiran bahwa aku ini adalah orang yang tidak beretika, orang yang berani-beraninya menaruh perasaan untukmu, bahkan mungkin kau akan membuang jauh pandangan saat melihatku, tapi aku akan biarkan kau berpikir seperti itu, dan …. Kau harus membiarkan aku menyimpan perasaan seperti itu untukmu rapat-rapat di dalam sebuah peti di dasar hatiku.

Aku hanya ingin semuanya jelas, hitam adalah pekat, putih adalah suci, bahwa perasaan itu yang menjadi satu kesatuan dari sukaku, sedihku, rinduku untukmu benar adanya, dan aku tidak akan memaksamu menaruh perasaan seperti itu, sebab aku yakin, bahkan sangat yakin bahwa jauh sebelum aku memiliki rasa untukmu, hatimu telah berpemilik, bukan begitu? Benar bukan?

Kau tidak perlu menjawabnya karena ini bukan sebuah surat cinta dan hatiku juga telah mengiyakan bahwa kau telah berpemilik.

*

 

Saat kau membaca ini dia telah berada di tempat tujuannya; tidur, berbicara, dan tersenyum di tempat yang memang telah menjadi takdirnya. Datang dari tempatmu dia membawa perasaanmu yang kau tuangkan lewat kertas, dia juga membawa apa yang ingin dia ungkapkan kepadamu tapi tidak jadi dia berikan. Seperti biasa dia menyerahkan semuanya, awalnya aku tidak ingin mengungkapkan apa yang ada dalam sanubarinya tentangmu, tapi logikaku mengatakan bahwa aku harus menyampaikan kejujuran yang ada dalam hatinya kepadamu, meskipun kejujuran itu menyakitiku. Ibarat sebuah pertandingan maka aku akan berdiri sebagai wasit yang menengahi hatimu dan hatinya.

Ini adalah kisahku, kisah seorang pejalan kaki yang dipaksa takdir untuk singgah di sebuah kampung dalam perjalanannya ke tempat tujuan. Dan ini adalah salah satu bagian dari sekian banyak bagian punyaku, bagian yang harus aku jalani agar ceritaku menjadi lengkap.

Dia!!! Salah satu dari sekian banyak makhluk yang tercipta dari tulang rusuk Adam yang tinggal di kampung persinggahanku. Aku mengenal dia seperti pribumi lain, biasa-biasa saja, sama seperti dia yang aku kenal di perkampungan lain. Dalam setiap persinggahan itu aku selalu bersikap sederhana, bicara, dan tersenyum seperlunya, tidak ada yang aku lebihkan karena persinggahan pastilah kutinggalkan, juga karena sederhana itu memang telah melekat dalam diriku, dan karena sederhana pula aku kerap menuai badai, badai perasaan yang kerap kali mendera kaum hawa, badai yang sama sekali tidak aku kehendaki karena akan menyakiti pemilik badai itu sendiri.

Hari itu ketika setengah waktuku di perkampunganmu, aku menemukan sorot matamu dipenuhi percikan bara, sorot mata yang aku takutkan akan menjadi sebuah kobaran, kobaran yang akan menjadi sebuah badai, ya sebuah badai. Ini benar-benar terjadi sungguh tidak kuduga, percikan api yang kulihat dari sorot matamu kini telah berubah menjadi sebuah kobaran perasaan yang lambat laun akan menusuk-nusuk kalbumu, dan aku yakin itu telah terjadi padamu tanpa kau sadari.

Sudah seminggu lebih setiap malam sebelum aku memejamkan mata kau berkidung di sebelah kamarku, mengajakku meresapi sepi, meninabobokan aku di malam lelap. Dan ketika aku tidak mendengarmu mendendangkan kidung, aku seperti merasa kehilangan sesuatu, sesuatu yang aku tahu tapi tidak aku mengerti kenapa aku merasa kehilangan. Aku coba melupakan kidungmu, tapi kidungmu kadung akrab di telingaku hingga aku tidak bisa terlelap. Kidungmu membuat sebuah perdebatan panjang di dasar sanubari, ibarat berada dalam sebuah rapat dengan dua keputusan, aku berada dalam posisi abstain tidak bisa memutuskan. Akhirnya aku hanya tahu bahwa perasaanku mengatakan bahwa akupun turut jatuh dalam badai yang kau tiupkan.  

“Apa kau sadar memiliki perasaan seperti itu untuk dia yang terpaut beberapa tahun di bawahmu?

Apa yang salah dengan perasaan seperti itu? Bukankah itu perasaan yang sangat manusiawi yang oleh Tuhan setiap orang pasti akan dikaruniai perasaan seperti itu berkali-kali!

Lalu bagaimana dengan dia yang telah memiliki hatimu? Apakah kau tega menyia-nyiakan kepercayaannya.

Apakah jika aku memiliki perasaan selain kepada pemilik hati ini aku menyia-nyiakan kepercayaannya? Tidak bukan? Bukan begitu? Jadi biarlah aku dengan  perasaan seperti itu untuk dia, dan aku akan tetap menjaga kepercayaan yang telah pemilik hati ini berikan.”

Dalam ruang sempit di rongga dada, perasaanku saling hantam dengan logika, sementara logika lenyap, perasaan memaksaku untuk berkata bahwa aku benar-benar mencintaimu, merindukanmu. Tanpa aku mengingatmu, aku dipaksa merasakan ada sesuatu yang hilang jika aku tidak menemukanmu di pelupuk mata, di setiap pendengaran, bahkan jika bola mata dan telingaku tidak bisa melihat dan mendengarmu pun, rasaku memaksa untuk terus mengingatmu. Kini aku telah fasih setiap senyumanmu, setiap sorot matamu, setiap ronamu meski aku tidak pernah menghapalnya sama sekali, tidak pernah! Pada kenyataannya aku hanya harus menegaskan sekali lagi bahwa aku menyukaimu, bahwa aku telah tersakiti oleh perasaanku sendiri terhadapmu.

Namun setelah aku habiskan sepertiga malam terakhirku dipersinggahanmu untuk merenung, kini telah aku putuskan bahwa esok saat punggungku menjauh aku tidak akan mengungkapkan apa-apa kepadamu, sebab sia-sia saja jika aku ungkapkan semua perasaan itu kepadamu, itu hanya akan menyakitimu, meskipun aku tahu kau juga berperasaan sama terhadapku. Aku hanya tidak ingin memberikan sesuatu yang kosong kepadamu, karena di akhir perjalananku telah ada seorang yang  rela menebus hari kedatanganku dengan air mata.

Hatiku telah benar-benar mantap untuk menutup tulisan ini dan tidak mengungkapkannya, biarkan aku bawa tulisan ini ke tempat yang aku tuju sebagai sebuah kenangan bahwa aku pernah meninabobokan perasaanku dan perasaanmu. Dan akan kuberikan tulisan ini kepada dia yang telah menungguku di halaman rumahnya, selamat tinggal …

Siapa yang bisa melarang jika kau dan dia mempunyai perasaan yang sama? Tidak ada! benar bukan?

Lalu apakah ada yang tersakiti jika kau dan dia mempunyai perasaan yang sama? Aku tidak tahu, yang paling aku tahu adalah bahwa hatiku serasa ditusuk-tusuk jarum. Satu sisi aku ingin hatinya hanya merindukanku, mencintaiku, tapi di satu sisi aku tidak bisa mencegah apa yang dia rasakan, aku tidak bisa melarang hatinya terbagi untukmu.

Persetan dengan semua perasaan itu, aku hanya ingin mengungkapkan kebenaran ini padamu, kebenaran yang sesungguhnya bahwa dia benar-benar mencintaimu, namun jauh sebelum dia mencintaimu dia telah mencintaiku lebih dulu. Sebenarnya ini adalah kisahku, kisah seorang pemilik hati yang harus menjawab surat sebuah hati yang dia bawa dari persinggahannya. Kisah seorang pemilik hati yang ketakutan akan kehilangan dia, kisah seorang pemilik hati yang selalu berusaha meyakinkan dia dengan bahasa air mata. Aku memang takut kehilangan dia, tapi aku mencoba pasrah dan percaya, percaya pada dia, pada kejujurannya, pada doa dan air mata yang kerap kali aku tumpakan di sepertiga malam.

Maafkan aku, karena aku, kau dan dia harus membiarkan perasaan itu berlalu seperti angin yang datang dan pergi begitu saja, karena aku, kau dan dia harus merasakan kepedihan dalam hati masing-masing, meskipun hatiku juga merasakan sakit, maafkan aku karena aku telah memilikinya terlebih dahulu.

Ini adalah kenyataan, bukan sebuah jawaban dari surat yang kau tuliskan untuk dia, kenyataan yang harus dihadirkan agar kita sesama makhluk yang terlahir dari tulang rusuk Adam mengerti dan memahami perasaan masing-masing. Pada kenyataannya kita saling menyayangi, tapi karena saling menyayangi itulah kita harus saling menyakiti.

*

2009

 

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here