Cerpen Ngimpo Karya Geger

Cerpen ber”Ngimpo” ini adalah karya Geger salah satu personil Dapur Sastra dari divisi Daek Sebah (Dapur Ekspresi Seni Bahasa). Dapur Sastra mengucapkan selamat mengapresiasi cerpen menarik ini.


 

NGIMPO

Karya Geger

Rabu malam, warga berkumpul di balai, menonton televisi. Mereka tampak khusu menonton Dunia dalam Berita di TVRI. Tapi, Kong Oden kulihat gelisah. Tubuhnya seperti goyah, tak bisa seimbang. Kong Oden duduk dengan tidak tenang. Pantatnya gusar, bergeser-geser. Ketika kutawari kacang rebus, ia bilang, “Iya makasih.”

Aku dan teman-temanku hanya nyengir.

Aku tahu apa yang digelisahkan oleh Kong Oden, dan itu yang membuatku dan teman-temanku cengar-cengir. Tepat pada pukul 00.00 nanti, ketika imajinasi kita tentang hari selasa berubah ke rabu, ada pengumuman togel—yang diselenggarakan pemerintah dengan nama SDSB: Sumbangan Dana Sosial Berhadiah. Program pemerintah itu diundi dua minggu sekali dan disiarkan di televisi. Barangsiapa yang angkanya tembus, niscaya akan mendapat uang. Pasti, jangan lupa dipotong pajak.

Dan, Kong Oden selalu mengikuti acara itu, bukan hanya sebagai penonton, tapi juga pelaku; pemasang nomor.

Akhirnya, acara yang ditunggu Kong Oden mulai juga…

***

Sebagai remaja kampung, pasti ada saja kejahilan yang dilakukan. Seperti mencuri ayam, meloroti celana anak kecil yang main layangan, atau makan gorengan segini, bayarnya segitu. Itulah yang sering kulakukan dengan teman-teman. Dan yang paling jahil menurutku, adalah mengisengi Kong Oden jika sendang ngimpo: sebuah ritual mendapat nomor togel yang tepat, dari makhluk-makhluk tak kasatmata.

Kong Oden dan satu laki-laki yang tidak kami kenal, menuruni tanah, menuju kali. Tepat di tengah kali, ada batu malang yang melintang, hampir menyentuh seberang. Di situlah Kong Oden dan temannya—yang tidak kami kenal—melakukan ngimpo. Kejadian itu malam-malam, di malam jumat yang konon suasana lebih cekam.

Kami sudah siap, mengumpat di balik pohon kapuk yang menjulang, menemani kelelawar-kelelawar terbang. Kami hanya bertiga: aku, Rohim, dan Hujol. Air di kali mengalir perlahan; batu malang menyembul, bercahaya oleh bulan.

“Itu dia, mereka datang.” Kata Rohim melihat Kong Oden dan temannya turun ke kali.

Kami berbisik-bisik. “Aku dan Rohim yang melempar batu. Kamu yang menjadi suara makhluk astral.” Kataku ke Hujol.

Serentak kedua temanku mengangguk.

Kami berada di atas mereka. Sebuah tanah yang lebih tinggi, di situ pohon kapuk itu berada, dan kami mengumpat-tiarap di balik gelap dan semak yang tidak terlalu tinggi, tapi cukup melindungi. Agar terlihat lebih natural, kami menunggu dulu, lumayan lama, sebelum melempar batu-batu.

Kemudian Kong Oden menggelar lilin dan sesajian di bawah, di batu malang. Lilin dinyalakan, lalu mereka duduk sila, memejam mata. Dan mantra-mantra yang entah dibaca.

Waktunya tiba, sudah lumayan lama, batu kami lempar satu-satu. Plung-byar, batu menghantam permukaan air kali. Maaf ikan, kami menggangu rumah kalian demi mengisengi Kong Oden.

Tibalah. “Paduka, terimakasih mau hadir!” Kong Oden teriak, sebagai balasan terhadap lemparan batu-batu. Aku lihat temannya ketakutan, badannya bergetar. Sedang Kong Oden seperti sudah biasa, santai di lantai batu malang.

Kami cengengesan. Tahan, tidak boleh tertawa, atau kesenangan ini berhenti selamanya. Tanpa diingatkan, Hujol selalu ingat. Dan akan menikmati pentasnya: sebagai makhluk astral, yang bersuara berat, beraksen penuh wibawa, juga jumawa.

“Hmmm, kamu lagi…” Ucap Hujol—yang pura-pura astral.

“Iya, Paduka, mohon maaf selalu mengganggu.” Balas Kong Oden sambil menangkup kedua telapak tangannya, tanda permintaan maaf.

Hujol sangat handal menahan tawa, “Baik, ada apa lagi?”

“Masih sama, Paduka, tujuh angka gemilang. Dan mohon maaf ini,” Kata Kong Oden menunjuk sesajian, “Jika sajian kami kurang enak dipandang.”

Hujol diam sejenak, lalu langsung teriak, “Catat!” Teriaknya kencang, menggema, tapi getaran wibawa—juga jumawa—tetap terasa.

Kong Oden sedikit kaget. Temannya Kong Oden—apalagi—terlihat semakin takut. Kami semakin sulit menahan tawa. Lalu mereka mengambil kertas, mencatat tujuh angka—yang mereka sebut—gemilang.

Hujol menyebut empat belas angka dengan asal. Tidak mungkin ada pengulangan. Tujuh angka buat Kong Oden, sisanya buat temannya. Setelah Hujol selesai mengucap angka gemilang, batu-batu kami lempar lagi satu-satu, tanda Hujol—yang pura-pura astral—pergi.

Kemudian mereka naik, kembali menuju ke pemukiman warga. Mungkin dengan harapan angka-angka asal—tapi gemilang—itu akan menggetarkan dunia pertogelan. Giliran kami yang turun, ke batu malang itu, menikmati sesajian: rokok, kopi yang sudah dingin, dan pisang ambon. Ketika menikmati sesajian itulah, kami bisa puas tertawa, mengenang kejadian tadi. Di batu malang, di bawah cahaya bulan, dan kelelawar bertebangan.

***

Tentu saja, kegiatan menjahili Kong Oden bukan sekali-dua kali kami lakukan, melainkan sering, hingga kami lupa sudah berapa kali. Mungkin sudah tujuh, atau sepuluh kali? Entahlah. Dan, Kong Oden selalu berganti pasangan ngimpo, tapi Kong Odenlah yang paling tekun ngimpo di batu malang itu.

Pernah, dan ini hanya sekali terjadi. Waktu itu musim hujan, Kong Oden dan satu temannya—yang lagi-lagi entah siapa, ngimpo di batu malang itu.

Malam memang terlihat kering, dan batu malang kali itu juga. Tapi siapa yang tahu kalau di daerah yang lebih tinggi dari daerah kami hujan?

Kata teman Kong Oden dalam ngimpo yang ini, “Kong, kok, dingin, Kong?”

Kong Oden, membalas, “Itu berarti Paduka sebentar lagi datang. Jangan takut…”

Temannya membuka mata, “Yah, Kong, banjir, Kong!”

Kong Oden membuka juga membuka mata, “Lah iya!”

Celana mereka basah. Air kali perlahan naik menutupi batu malang. Dan kami tak kuasa menahan tawa di balik gelap dan tidak terlihat.

“Kong, ada orang ketawa, Kong!” Kata temannya, sembari langsung lari. Kong Oden juga lari. Terbirit naik ke pemukiman.

Kami tertawa makin puas. Tapi, sesajian waktu itu tidak kami dapatkan, karena keburu terbawa air.

Dan sejak saat itu, pada musim hujan Kong Oden tak pernah kelihatan lagi ngimpo.

***

Dan malam ini, kami masih cengengesan melihat Kong Oden gelisah nonton siaran televisi di balai warga. Sebenarnya, bukan hanya Kong Oden yang gelisah, warga lain yang memasang nomor juga. Tapi, tidak ada yang segelisah Kong Oden.

Siaran itu dimulai: pengundian nomor. Angka-angka berjalan di televisi. Jeng jeng jeng!

“Baik, pemirsa, mari kita undi.” Kata pembawa acara.

Dan bola-bola angka tergelincir menuju tempatnya, akan membentuk tujuh angka, sebagai nomor seri. Tujuh angka pun terbentuk, tepat di layar kaca teve, mencolok mata.

“Akhirnya, dapat semilyar!” Suara teriakan itu terdengar jelas. Ternyata berasal dari mulut Kong Oden. “Uuuu, dapat semilyar!” Kong Oden mengulanginya lagi. Kami: aku, Rohim dan Hujol ternganga, tidak menyangka. Berarti angka asal-asalan dari mulut Hujol sakti juga, atau ini takdir, atau hasil dari ketekunan Kong Oden melakukan ngimpo?

Lalu Kong Oden keluar balai, sambil lari dan teriak-teriak dapat semilyar! Itu berarti angkanya tembus tujuh-tujuhnya.

Tapi, sejenak kami semua di balai warga mulai bertanya-tanya, karena belum satu warga pun melihat angka di kupon Kong Oden. Seperti ada yang mengganjal. Apakah Kong Oden benar dapat atau telah gila?

 

Bekasi, 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here