Ilustrative Images

CORETAN GERBANG

Gemercik hujan pagi sudah mulai terasa, orang-orang menarik lagi selimutnya dan diam dirumah sambil memeluk bantal dan gulingnya, langit enggan untuk membukakan tirai awan yang menutupi sinar sang surya dan raga yang enggan bekerja.

Sebut saja namanya Awan dirinya masih menginjak umur dua belas tahun dan sekarang sedang menimba ilmu di Madrasah Tsanawiah, Awan bukanlah orang yang pintar dia masuk ke kelas tujuh ‘J’ kelas paling akhir di kelas tujuh, padahal jika dilihat dari nilai ataupun rangking saat kelas enam SD dulu dia mendapat peringkat ke 22 dari 40 siswa dikelasnya, beda dengan temannya zia yang peringkat ke 35 saat SD tetapi masuk di kelas tujuh ‘B’, Awan merasa aneh dan malu saja saat tau dirinya berada dikelas paling akhir kelas tujuh. Setelah kegiatan masa orientasi selesai ternyata Awan dipindahkan menjadi siswa kelas tujuh ‘I’ hanya naik satu tingkat saja, disana Awan merasa lumayan betah walau tidak berada di kelas unggulan kelas tujuh ‘A’’B’’C”.

Awan masih lah anak yang polos dan sering berimajinasi dikelas tentang benda yang dilihat maupun yang dipegang, hingga teman-temannya menertawakan apa yang dilakukannya tapi Awan justru cuek dan malah meneruskan imajinasinya, saat pelajaran baca tulis al-quran Awan juga gagal dan harus menerima les tambahan, sepulang sekolah dirinya tidak diperkenankan pulang namun harus mengikuti kelas tambahan baca tulis al’quran.

Beberapa bulan kemudian ada tes tulis ulangan harian mata pelajaran IPS namun tentu saja Awan belum pernah belajar dirumah, saat ujian dirinya terlalu percaya diri hingga terkena remedial sebanyak tiga kali berturut-turut sampai hanya menyisakan dua orang yang masih belum saja lulus yaitu Awan dan temannya yang autis Irfan.

Awan juga pernah jatuh cinta pada teman sekelas, Mulan namanya dia adalah anak dari seorang Bos Ubi dikawasan pasar kemis dan Awan tau itu dari temannya secara tidak sengaja, Mulan mirip seperti artis-artis di Tv dia mempunyai kulit yang putih, paras yang cantik dan tentu saja dia baik, namun Awan tidak berani mengungkapkan isi hatinya karena dirinya tidak ingin berurusan dengan asmara. Jatuh cinta pada pandangan pertamanya adalah ketika kelas empat SD dulu, saat menjadi korban teman-temannya yang mengusili seorang gadis kelas dua di jendela dengan cara mengetok kacanya lalu kabur bersembunyi, karena gadis itu duduk disebelah jendela dan mulai merasa terganggu, serentak setelah gordeng jendela itu dibuka mendadak Awan yang kebetulan ada disana diam dan melongo saat melihat gadis cantik kelas dua itu keluar memeriksa lewat jendela, rasanya senang dan bahagia ketika baru saja memandangnya, ya! Awan sedang jatuh cinta pada pandangan pertamanya, sekejap gadis itu melihat dengan mata terarah melotot dan menyangka kalau Awan lah yang mengganggunya, mulai dari sana Awan yang tidak tahu apa-apa tertarik dan semangat sekolah meskipun hanya ikut cari perhatian saja saat melewati jendela kelas dua itu.

Tiba pada penghujung ujian akhir semester genap Awan masih saja terlalu percaya diri dengan apa yang diketahuinya, enggan belajar dan malah sibuk main bola sepulang sekolah, Awan sangat anti terhadap buku-buku pelajaran, dibandingkan dengan buku Awan lebih suka game pc yang masih langka pada saat itu daripada harus membaca buku serta tidak mengerti sama sekali apa yang dijelaskan dalam buku itu.

Rapor sekolah akan dibagikan besok, Awan optimis dirinya naik kelas dan tak terlalu peduli dengan nilai yang mungkin akan jeblok, pikirannya selalu positif dan optimis yang penting naik kelas dan bisa ngaji saja itu sudah cukup, besok siang kaka perempuan Awan berangkat kesekolah lalu siangnya pulang membawa sebauah rapor dan menjelaskan kalau nilai mengaji Awan sangat jelek sekali itu kata wali kelasnya, dan Awan juga mendapat rangking tiga dari empat puluh siswa di kelasnya, ya! peringkat tiga disini yaitu tiga puluh tujuh!! Peringkat ketiga terakhir. Orang tuanya terkejut langsung memarahinya habis-habisan.

Awan hanya diam cuek dan tidak peduli, yang dirinya pikirkan hanyalah pernyataan wali kelasnya “ko bisa ya nilai ngajinya jelek, padahal alfa cuman sekali pas BTQ, wah wali kelasnya engga beres nih, bodoamat lah.” liburan kenaikan kelas selama dua minggu sudah dimulai, liburannya kebanyakan di isi dengan kegiatan mancing, ngaji jadi santri kalong dan main bola.

Hari pertama masuk semester baru di kelas delapan sama saja masih terasa malas dan membosankan namun ketika masuk gerbang dan disana Awan melihat sebuah coretan dalam gerbang masuk yang bertuliskan “Aku Datang Untuk Belajar” Awan tiba-tiba diam dan berfikir kritis seperti orang yang baru saja tersambar petir di pagi hari, yang merubah pola daya pikirnya 180 derajat!, mulai dari sana Awan bertanya dalam benaknya “memangnya datang ke sekolah untuk belajar ya?” Awan kaget baru sadar kalau waktu yang sudah lewat hilang terbuang begitu saja dan baru mengerti untuk apa tujuan dirinya masuk sekolah.

Awan yang masih belum sadar hanya menganggap sekolah merupakan sebuah ajang untuk menghabiskan waktu dan ikut-ikutan saja layaknya orang lain, ketika yang lain berangkat sekolah maka ikut berangkat sekolah, yang lain malas maka dirinya juga ikut malas kesekolah, masih sangat polos dan belum punya pendirian.

Namun begitu, setelah Awan sadar bahwa tujuannya datang kesekolah sudah masuk akal, dirinya mulai berubah drastis langsung melaksanakan kewajiban sebagai seorang pelajar untuk menimba ilmu di sekolah.

Awan mulai membaca buku kembali meskipun itu terasa sangat sulit untuknya, ketika belajar di kelas setiap guru yang selesai mengajar Awan tidak merapikan buku, dia membukanya lagi dan membacanya hingga benar-benar paham, Kini setiap jam istirahat dirinya jarang pergi ke kantin tapi Awan lebih memilih pergi ke perpustakaan sekolah untuk memanfaatkan waktunya sebaik mungkin. Setiap berangkat sekolah Awan terkadang ikut dengan kakanya yang sekalian berangkat kerja, di sepanjang jalan Awan dijejeli motivasi belajar dan diajak berfikir terbuka tentang dunia pendidikan.

Sudut pandang setiap guru-guru yang mengajar di kelas kini ikut berubah dan mulai menganggap Awan adalah siswa yang aktif, penurut dan sering maju jika disuruh serta remedial-remedial kini hanya sebuah istilah yang diperbincangkan oleh teman-temannya saja, Awan kali ini berbeda dan lolos ujian harian sekali coba.

Satu tahun tidak terasa, penentuan kenaikan kelas dan pembagian lapor hanya tinggal menghitung jam saja, Awan dari pagi sudah semangat menunggu hasil belajar tahun ini namun pembagian rapor kali ini sayangnya diambil oleh siswa bukan oleh orangtua.

Walikelas memulai pendahuluan dan menyemangati para peserta didiknya dari hasil belajar selama satu tahun ini, barulah pembagian rapor dan peringkat kelas di mulai, kali ini Awan sudah pasrah dan menerima peringkat berapapun, setiap kali walikelas menyebutkan peringkat tiga besar dirinya tidak ada dan itu memang hal yang wajar karena kemarin saja dirinya mendapat peringkat ke tiga puluh tujuh, ya spektakuler sekali!, tapi tiba-tiba walikelas memanggilnya dan ternyata mendapati dirinya berada peringkat sepuluh besar, Awan terkejut dan tertawa puas dalam hatinya, begitupun teman-temannya yang menganggap bahwa Awan tidaklah pintar tetapi tiba-tiba dirinya mendapati peringkat sepuluh besar.

Perjalanan pulang dari sekolah Awan dipuji terus menerus oleh teman kelasnya “ zia tau gak? si Awan dapat rangking sepuluh besar, gak nyangka!’ ucap teman sekelasnya dan sekaligus teman masakecil yang suka meremehkannya, namun dari tadi Awan hanya diam dan malu saja masih mengingat ekspresi terkejut setelah mendengar namanya yang di panggil oleh walikelas pagi tadi.

Setelah naik kelas Sembilan dan lulus dari Madrasah Tasanawiah, Awan sudah terbuka tentang pandangan suatu pendidikan di sekolah, apa itu sekolah? Untuk apa sekolah? Dan Bagaimana Sekolah itu? Awan sudah tau betul dan sudah sadar untuk apa dirinya menimba ilmu.

 

 

Kuningan, 22 Mei 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here