Informative Images

InfoCerita rakyat Legenda Batu Kasur Tilu ini merupakan cerita rakyat yang berasal dari Desa Parakan Kecamatan Maleber Kabupaten Kuningan.

Ditulis oleh Toto Sazalitohir

Dituturkan oleh Mukaha dan Solehudin

 

Pada zaman Kerajaan Padjajaran, terdapat kerajaan yang dipimpin oleh Demung Kalagan. Dia mempunyai putri yang dijadikan istri muda oleh Raden Bagus Sukamantri. Dari pernikahannya itu mereka dikaruniai seorang putra bernama Utun. Tetapi oleh istri tua Raden Bagus Sukamantri, tidak dikehendaki anak itu dibesarkan di kerajaan. Akhirnya Utun ditukarkan dengan seekor anjing. Demung kalagan yang tidak tahu bahwa Utun telah ditukarkan, menganggap anjing itu sebagai cucunya. Ia menerima apapun yang dikehendaki Tuhan, serta mengurus anjing itu layaknya cucu raja.

Sementara itu, Utun dibuang oleh ibunya ke Leuwi Putri. Ibunya dengan terpaksa dan rasa sedih yang mendalam membuang Utun dengan dibekali telur ayam. Terdamparlah Utun di sebuah gua. Dari dalam gua terpancar cahaya dari tubuh Utun. Cahaya itu kemudian menuntun sepasang suami istri dari golongan petani yang bernama Ki Balantrang dan Nyi Balantring untuk menemukan Utun. Mereka akhirnya mengurus Utun dengan sederhana namun penuh kasih sayang. Utun sering ditidurkan di sebuah batu yang sampai sekarang batu tersebut masih ada dan dinamai Batu Kasur Tilu, karena bentuknya mirip kasur dengan tiga penyangga di bawahnya. Waktu terus berjalan. Utun tumbuh dewasa dengan dibarengi menetesnya telur yang dibekalkan kepada Utun menjadi ayam.

Di sisi lain, Demung Kalagan lama kelamaan merasa curiga bahwa anjing itu bukan cucunya. Mata batinnya merasakan ada keganjilan, dan ia merasakan bahwa cucunya masih hidup. Untuk menemukan cucunya, Demung Kalagan menyelenggarakan pertandingan adu ayam, karena ia pun hobi mengadu ayam. Ia yakin, bahwa cucunya pasti menyukai adu ayam. Terdengarlah pertandingan itu ke telinga Utun. Ia ingin mengikuti pertandingan tersebut. Berangkatlah Utun untuk mengikuti pertandingan, tetapi dia tidak diijinkan masuk karena dianggap bukan keturunan raja. Namun ternyata, penjaga kerajaan tidak sanggup mencegah Utun. Akhirnya penjaga kerajaan menghadap raja. Raja pada akhirnya mengijinkan Utun untuk mengikuti perlombaan. Ayam aduan kerajaan yang terkenal jago dan tidak terkalahkan harus takluk oleh ayam Utun. Melihat kejadian itu, Demung Kalagan yakin bahwa Utun adalah cucunya. Begitu juga dengan Raden Bagus Sukamantri yang merasa yakin bahwa Utun adalah anaknya. Raja memerintahkan untuk menangkap Utun dan ayamnya. Tetapi Utun lari tidak terkejar dan tidak ditemukan oleh pihak kerajaan. Utun disembunyikan oleh Ki Balantrang. Namun lama kelamaan, Ki Balantrang tidak nyaman dengan situasi seperti itu. Ki Balantrang ingin membuktikan bahwa Utun adalah cucunya.

Utun diperintahkan untuk adu kesaktian dengan jago kerajaan. Karena memang Utun turunan raja, maka kesaktian Utun tidak diragukan lagi. Melihat kegagahan Utun, maka Demung Kalagan langsung memeluk Utun, begitu juga dengan Raden Bagus Sukamantri yang merasa yakin Utun adalah anaknya. Maka bersatulah keluarga kerajaan tersebut. Utun kemudian diangkat menjadi raja.

Pembaca juga dapat menyaksikan cerita rakyat ini di kanal youtube Dapur Sastra

5 COMMENTS

  1. Greetings, I do think your site could possibly be having browser compatibility issues. Whenever I look at your site in Safari, it looks fine however, if opening in Internet Explorer, it has some overlapping issues. I simply wanted to provide you with a quick heads up! Besides that, fantastic site! Lara Mikael Aulea

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here